Bandung Barat, MEMANGGIL.CO - Pemerintah mendorong perubahan pola pembangunan agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Ekowisata dan ekonomi sirkular dinilai menjadi dua pendekatan yang dapat membuka aktivitas ekonomi tanpa mengesampingkan keberlanjutan alam.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat menyampaikan hal tersebut setelah menghadiri diskusi lingkungan dan kegiatan penanaman pohon di Rongga Budaya, Dusun Bambu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Menurut Jumhur, pembangunan tidak lagi cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Setiap aktivitas ekonomi perlu dirancang agar tetap menjaga lingkungan sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
"Kita pindah peradaban. Peradaban yang dulu membangun sambil merusak lingkungan, sekarang membangun sambil memelihara lingkungan dan tumbuh ekonomi juga sambil memelihara lingkungan," kata Jumhur, Jumat (2/10/2026).
Ia menyebut perubahan tersebut sebagai bagian dari pola pembangunan baru yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi. Dengan pendekatan itu, kegiatan usaha tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi alam.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang untuk mempertemukan kepentingan ekonomi dan lingkungan adalah ekowisata. Pemanfaatan kawasan alam sebagai destinasi wisata dinilai dapat menciptakan kegiatan ekonomi sekaligus mendorong masyarakat menjaga lingkungan.
"Pemerintah sangat serius untuk mendorong ekoturism, ekowisata. Karena itu adalah satu kegiatan ekonomi yang sekaligus bisa memuliakan lingkungan," ujar Jumhur.
Ekonomi Sirkular Jadi Perhatian
Selain ekowisata, pemerintah juga mendorong penerapan ekonomi sirkular dalam berbagai aktivitas pembangunan. Konsep tersebut menekankan adanya perputaran aktivitas ekonomi sehingga manfaatnya dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Jumhur menilai keberlanjutan sebuah kawasan tidak hanya bergantung pada kondisi lingkungan, tetapi juga pada aktivitas ekonomi yang mampu terus berjalan. Karena itu, kegiatan ekonomi dan upaya menjaga alam perlu ditempatkan dalam satu ekosistem.
"Apa pun kegiatan ini bisa hidup kalau ada circular ekonomi. Ada ekonomi yang berputar. Kalau tidak, ya biasanya tidak abadi," imbuhnya.
Pemerintah juga membuka ruang lebih besar bagi dunia usaha untuk terlibat dalam perlindungan keanekaragaman hayati. KLH/BPLH tengah menyiapkan skema biodiversity credit yang diarahkan menjadi salah satu mekanisme pembiayaan kegiatan konservasi dan pemulihan lingkungan.
Menurut Jumhur, kepentingan bisnis dan perlindungan alam tidak harus ditempatkan dalam posisi berlawanan. Aktivitas usaha justru dapat diarahkan agar menghasilkan keuntungan ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
"Jangan alergi bahwa bisnis, financing itu harus menjadi bagian daripada memuliakan bumi. Silakan berbisnis dalam rangka juga memuliakan bumi," tegasnya.
Dusun Bambu Jadi Contoh Pengembangan Ekowisata
Konsep pembangunan berbasis ekowisata salah satunya dikembangkan di kawasan Dusun Bambu, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 35 hektare dan sebelumnya merupakan lahan kritis sebelum dikembangkan menjadi kawasan hijau berbasis ekowisata.
Pengembangan kawasan tersebut menunjukkan bagaimana pemanfaatan lingkungan untuk kegiatan wisata dapat berjalan bersamaan dengan upaya pemulihan kawasan. Aktivitas wisata kemudian menjadi bagian dari kegiatan ekonomi yang tetap memperhatikan keberadaan ruang hijau.
Model serupa juga dikembangkan di EIGER Nature, Kabupaten Bogor. Kawasan seluas sekitar 253 hektare tersebut menjalankan program pemulihan lingkungan melalui penanaman sekitar 120 ribu pohon tegakan dan 8 juta tanaman perdu.
Selain pemulihan ekosistem, kawasan tersebut juga diarahkan sebagai sarana edukasi. Masyarakat diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui aktivitas yang dilakukan di kawasan tersebut.
Potensi Wisata Alam Bandung Barat
Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail mengatakan wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat masih memiliki potensi wisata alam yang dapat dikembangkan. Pengembangan tersebut diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar destinasi.
Sejumlah destinasi, termasuk Curug Malela dan Curug Sawer, dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah berharap aktivitas wisata tidak hanya berkembang di kawasan tertentu, tetapi juga memberikan dampak ekonomi lebih luas.
Dalam kesempatan tersebut, Asep juga menyampaikan persoalan lingkungan di Waduk Saguling, terutama berkaitan dengan pertumbuhan eceng gondok. Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan mengenai pengelolaan lingkungan di kawasan Bandung Barat.
Menanggapi persoalan tersebut, Jumhur meminta pihak-pihak yang memperoleh manfaat dari keberadaan Waduk Saguling ikut mengambil bagian dalam penyelesaian masalah lingkungan. Keterlibatan berbagai pihak dinilai diperlukan agar persoalan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Pemerintah pusat dan daerah juga mendorong keterlibatan dunia usaha serta masyarakat dalam menjaga kawasan lingkungan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan ekonomi sekaligus mendukung konservasi dan pemulihan lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan aktivitas ekonomi. Keberlanjutan lingkungan juga menjadi bagian penting agar manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Editor : Redaksi