Blora, MEMANGGIL.CO - Data kebakaran di Kabupaten Blora sepanjang 2026 mengungkap angka yang tidak bisa dianggap sepele. Hingga 6 Oktober, Damkar Satpol PP Kabupaten Blora mencatat 217 kejadian kebakaran, sementara 159 kasus di antaranya terjadi hanya dalam tiga bulan, Juli hingga September.
Lonjakan kasus tersebut berjalan beriringan dengan besarnya dampak material. Dari kejadian yang memiliki catatan nilai kerugian, total kerugian akibat kebakaran tercatat sekitar Rp12,705 miliar.
Kabid Damkar Satpol PP Kabupaten Blora Hariyanto Purnomo mengatakan, angka tersebut menjadi peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Kebakaran dapat terjadi dari berbagai sumber dan dampaknya bisa meluas apabila tidak segera ditangani.
“Data ini menunjukkan bahwa kebakaran masih menjadi hal yang harus kita waspadai bersama,” kata Hariyanto, ditulis Rabu (7/10/2026).
Catatan bulanan menunjukkan lonjakan mulai terlihat ketika memasuki pertengahan tahun. Januari hingga Juni tercatat 43 kejadian, lalu Juli mencapai 44 kasus dan Agustus naik menjadi 47 kasus.
September menjadi bulan paling tinggi dalam periode tersebut. Sebanyak 68 kejadian kebakaran tercatat hanya dalam satu bulan.
Memasuki Oktober, api masih menjadi ancaman. Hingga 6 Oktober 2026, Damkar mencatat tambahan 15 kejadian, sehingga total keseluruhan mencapai 217 kasus.
Dari sisi penyebab, aktivitas yang berkaitan dengan pembakaran sampah mendominasi dengan sekitar 130 kejadian setelah data dinormalisasi. Sementara korsleting listrik tercatat sekitar 64 kejadian.
Artinya, sebagian risiko kebakaran berasal dari aktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembakaran sampah yang tidak diawasi maupun gangguan listrik dapat memicu api dan kemudian merembet ke area sekitar.
Objek yang terbakar pun cukup beragam. Mulai dari lahan, rumpun bambu, rumah, lahan jati, semak hingga tanaman tebu tercatat dalam data kejadian kebakaran.
Namun, ada sisi lain dari penanganan kebakaran di Blora. Dari 217 kejadian, 215 kasus memiliki catatan waktu respons, dan 191 kasus tercatat dapat direspons maksimal 15 menit.
Hariyanto mengatakan kecepatan laporan menjadi salah satu kunci agar petugas dapat segera bergerak. Masyarakat yang mengetahui adanya kebakaran diminta tidak menunda laporan dengan alasan menunggu kondisi api.
“Kecepatan laporan sangat penting. Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat petugas bisa bergerak,” ujar Hariyanto.
Dampak ekonomi tetap menjadi persoalan serius. Kerugian sekitar Rp12,705 miliar yang tercatat dari 43 kejadian dengan nilai kerugian menunjukkan bahwa kebakaran dapat menghabiskan aset bernilai besar dalam waktu singkat.
Lebih lanjut, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan kecepatan petugas, tetapi juga memperkuat pencegahan. Mengawasi api saat membakar sampah, memastikan sumber api padam dan memperhatikan instalasi listrik menjadi langkah yang dapat dilakukan sejak awal.
“Jangan menunggu kebakaran menjadi besar. Mari bersama-sama mencegah sejak dari lingkungan masing-masing,” pungkasnya.
217 kejadian kebakaran, 159 kasus dalam tiga bulan dan kerugian Rp12,705 miliar menjadi catatan penting sepanjang 2026. Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan, kewaspadaan dan laporan cepat masyarakat tetap menjadi kunci untuk menekan dampak kebakaran di Blora.
Editor : Ahmad Adirin