Surabaya, MEMANGGIL.CO - Cara mahasiswa belajar hari ini sudah jauh berbeda. Informasi melimpah di internet membuat peran dosen tidak lagi sekadar penyampai materi.
Kondisi inilah yang menjadi latar belakang pentingnya pelatihan dosen yang kembali dipercayakan kepada Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kembali menetapkan Untag Surabaya sebagai salah satu dari 74 kampus penyelenggara pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) dan Applied Approach (AA) secara nasional.
Keputusan tertuang dalam Keputusan Dirjen Dikti Nomor 114/B/KPT/2026 tertanggal 12 Oktober 2026.
Status ini krusial, karena sertifikat PEKERTI-AA menjadi syarat utama Sertifikasi Pendidik untuk Dosen (Serdos).
Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan pelatihan kali ini akan menjawab tantangan nyata di kelas, bagaimana dosen membangun interaksi dan berpikir kritis di era digital.
“Mahasiswa jaman saat ini memiliki cara memperoleh informasi dan memahami pengetahuan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan bagi dosen untuk tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan persoalan,” terang Harjo, Kamis (15/10/2026).
Karena itu, Untag Surabaya tidak ingin pelatihan hanya bersifat administratif.
“Menjadi penyelenggara PEKERTI dan AA bukan sekadar memenuhi ketentuan administratif. Ada tanggung jawab untuk memastikan dosen mendapatkan pengalaman belajar yang bermanfaat,” jelasnya.
Menurutnya, peserta dari berbagai kampus dan latar belakang keilmuan membutuhkan pendekatan yang aplikatif.
“Materi, metode, dan pendampingan harus mampu menjawab kebutuhan mereka agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung dalam kegiatan mengajar,” tambahnya.
Menariknya, pada penyelenggaraan sebelumnya, program ini telah diikuti dosen dari luar Pulau Jawa. Artinya, dampak Untag Surabaya sudah melintas pulau.
Secara konsep, PEKERTI fokus pada cara merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.
Sementara AA mengasah strategi mengajar yang inovatif. Peserta akan menempuh 42 jam teori daring dan 63 jam pembimbingan mandiri luring.
“Ketika kualitas pengajaran meningkat, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh mahasiswa, termasuk di perguruan tinggi asal para peserta,” pungkas Harjo.
Editor : Abdul Rohman