Surabaya, MEMANGGIL.CO - Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (FF Ubaya), Dr. apt. Marisca Evalina Gondokesumo, mencatatkan prestasi membanggakan.
Di usia 38 tahun, ia telah mengantongi empat paten produk herbal kesehatan dan satu Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Empat invensi yang telah dipatenkan meliputi obat kumur berbasis ekstrak daun stevia, tisu wajah berbahan kulit jagung, nanopartikel ekstrak kulit manggis sebagai penghambat pertumbuhan sel kanker leukimia HL-60, serta tisu antibakteri dari kulit jagung dengan aditif kitosan dan ekstrak kulit manggis.
Marisca mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari ketertarikannya mengeksplorasi kekayaan biodiversitas Indonesia untuk obat herbal.
"Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas nomor dua di dunia yang seharusnya dapat dimaksimalkan untuk menunjang kualitas kesehatan masyarakatnya. Namun, pada faktanya, pemanfaatan dan riset ilmiah untuk pembuktian manfaatnya masih sangat minim dilakukan," terang Marisca, Selasa (20/10/2026).
Salah satu karya yang mengantarkannya terpilih sebagai dosen muda dengan paten inspiratif adalah "Tisu Antibakteri yang Terbuat dari Kulit Jagung dengan Aditif Kitosan dan Ekstrak Kulit Manggis".
Sertifikat Paten Sederhana itu diserahkan langsung Menteri Hukum RI, Supratman Andi Agtas dan Dirjen Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar di Surabaya pada September lalu.
"Simpel, namun berdampak. Mungkin itu deskripsi yang tepat untuk menjelaskan inovasi tisu jagung antibakteri hasil pengembangan saya dan tim. Bahannya lebih ramah lingkungan karena menggunakan kulit jagung, namun ada manfaat antibakteri dari kitosan dan kulit manggis yang sudah terbukti secara klinis aman bagi yang memiliki alergi dan kulit sensitif," ungkapnya.
Perempuan yang menyelesaikan studi doktoral bidang biomedik di usia 29 tahun itu juga mencatatkan paten untuk invensi "Nanopartikel Ekstrak Kulit Manggis untuk Menghambat Pertumbuhan Sel Kanker Leukimia HL-60" pada 2025.
Selain paten, kiprahnya di pengabdian masyarakat juga berbuah rekor. Melalui pengabdian multitahun di Desa Jatijejer, Trawas, Mojokerto, tim yang dipimpinnya berhasil menciptakan pionir desa atsiri hingga meraih Rekor MURI.
Di kampus, Marisca pernah menjabat Ketua Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) FF Ubaya periode 2022-2025. Saat ini ia menjabat Koordinator Sentra Kekayaan Intelektual Ubaya.
"Sebagai seorang dosen, saya sangat suka apabila para mahasiswa juga memiliki semangat yang tinggi untuk berinovasi. Saya juga akan terus berinovasi dan mencari potensi etnobotani Indonesia untuk diberdayakan sebagai obat herbal," pungkasnya.
Editor : Abdul Rohman