Simulasi Gempa Bumi di Lasem Rembang, Warga Berhamburan Keluar Gedung

Reporter : Miftachussolichin
Suasana mendadak ramai saat skenario gempa bumi disimulasikan. (Ist)

Rembang, MEMANGGIL.CO - Sejumlah orang tampak panik dan berlindung di bawah meja. Sebagian lainnya bergegas keluar ruangan hingga berhamburan menuju halaman Kantor Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Selasa (20/10/2026).

Suasana mendadak ramai saat skenario gempa bumi disimulasikan. Namun, kepanikan tersebut bukan disebabkan gempa bumi yang sebenarnya, melainkan bagian dari kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa bumi, mulai dari cara melindungi diri saat guncangan terjadi hingga melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman.

Sekitar 55 peserta dari berbagai unsur mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Pendapa Kecamatan Lasem. Mereka terdiri atas perwakilan pemerintah daerah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, akademisi, komunitas, TNI, dan Polri.

Selain praktik simulasi penyelamatan diri, peserta juga mendapatkan pembekalan teori mengenai mitigasi gempa bumi agar mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi catatan sejarah gempa bumi yang pernah terjadi di wilayah Lasem dan sekitarnya.

Menurut Ana, edukasi kebencanaan perlu diberikan kepada berbagai unsur masyarakat agar mereka memahami tindakan yang harus dilakukan ketika gempa bumi terjadi.

“Melalui sekolah lapang ini, kami memberikan edukasi kepada para peserta agar ketika terjadi bencana, khususnya gempa bumi, seluruh unsur sudah siap dan mengetahui apa yang harus dilakukan serta ke mana harus melakukan evakuasi,” ujarnya.

Ana menjelaskan, Sekolah Lapang Gempa Bumi tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung. Dengan begitu, peserta diharapkan tidak sekadar memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya ketika menghadapi kondisi darurat.

Kegiatan tersebut juga diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Kecamatan Lasem maupun Kabupaten Rembang.

Ia menegaskan, waktu terjadinya gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan kesiapan masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko bencana.

Pemkab Rembang Dorong Edukasi Kebencanaan Berkelanjutan

Sementara itu, Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Mardi, mengapresiasi BMKG, khususnya BBMKG Wilayah II, yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Menurutnya, edukasi kebencanaan sangat penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui potensi bencana, tetapi juga memahami langkah yang tepat untuk melindungi diri ketika situasi darurat terjadi.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Rembang, kami menyampaikan terima kasih atas kegiatan yang diinisiasi BMKG, khususnya BBMKG Wilayah II. Kegiatan ini sangat penting karena masyarakat perlu memahami bagaimana menghadapi gempa bumi,” kata Mardi.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diteruskan kepada masyarakat luas melalui sosialisasi dan edukasi lanjutan.

Pemerintah daerah melalui instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), juga diharapkan berperan aktif dalam memperluas penyebaran informasi mengenai kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi.

Mardi turut mengingatkan bahwa anggapan Kabupaten Rembang sebagai wilayah yang aman dari gempa perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai potensi bencana berdasarkan catatan sejarah.

“Kesiapsiagaan harus terus dibangun agar risiko korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin. Selain melalui sekolah lapang, edukasi kebencanaan juga dapat dikembangkan lewat program Desa Tangguh Bencana maupun pendidikan kebencanaan di sekolah,” imbuhnya.

Peserta: Masyarakat Perlu Tahu Cara Menyelamatkan Diri

Salah seorang peserta, Abdullah Hamid, pengurus Masjid Jami’ Lasem, menilai Sekolah Lapang Gempa Bumi memberikan pengetahuan baru yang belum banyak dipahami masyarakat.

Menurutnya, pengalaman gempa bumi di wilayah Lasem menjadi pengingat bahwa pemahaman mengenai mitigasi bencana perlu terus ditingkatkan.

Meski waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan, masyarakat perlu memahami karakteristik gempa bumi, cara menyelamatkan diri, serta langkah pengamanan yang tepat, baik secara pribadi maupun kelompok.

“Sekolah lapang ini sangat diperlukan. Kami diberikan pengetahuan karakteristik gempa, cara menyelamatkan diri, serta langkah pengamanan, baik secara pribadi maupun kelompok,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, BMKG bersama pemerintah daerah diharapkan dapat mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih tanggap terhadap potensi gempa bumi.

Simulasi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi. Dengan memahami prosedur penyelamatan diri dan jalur evakuasi, masyarakat diharapkan mampu bertindak lebih tepat sehingga risiko korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin.

Editor : Abdul Rohman

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru