Tuban, MEMANGGIL.CO – Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) XII Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Tuban, dinamika pergantian kepemimpinan di tubuh organisasi perempuan muda NU tersebut mulai menghangat.
Para senior mengingatkan agar proses pemilihan berjalan sesuai aturan organisasi, mengedepankan evaluasi kepengurusan, serta bebas dari praktik politik uang atau risywah.
Konfercab yang menjadi forum musyawarah tertinggi Fatayat NU tingkat kabupaten itu dijadwalkan berlangsung pada Ahad (25/10/2026) di Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama (IIK NU) Tuban.
Agenda lima tahunan tersebut merupakan bagian dari proses kaderisasi sekaligus regenerasi kepemimpinan di tubuh salah satu badan otonom NU yang memiliki basis kader hingga tingkat kecamatan dan desa.
Namun, menjelang pelaksanaannya, dinamika pencalonan ketua PC Fatayat NU Tuban periode berikutnya mulai menjadi perbincangan di kalangan kader. Ketua PC Fatayat NU Tuban periode 2021–2026, Wahyuni Hidayati, disebut berpeluang kembali mencalonkan diri.
Di sisi lain, muncul aspirasi dari sejumlah kader tingkat ranting dan anak cabang yang menghendaki pergantian kepemimpinan dengan mengusung Wahidah Faizatin, yang akrab disapa Titin, Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Montong.
Persaingan di antara para kader tersebut semakin terasa menjelang pelaksanaan konferensi. Situasi ini mendorong sejumlah senior dan pembina organisasi untuk mengingatkan seluruh pihak agar tetap menjaga suasana kondusif serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi landasan perjuangan Fatayat NU.
Majelis Pembina PC Fatayat NU Kabupaten Tuban, Hj. Umi Kulsum, menegaskan bahwa pelaksanaan Konfercab harus berpedoman pada Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) Fatayat NU.
Menurutnya, konferensi tidak boleh hanya dipandang sebagai ajang memilih ketua baru, tetapi juga harus menjadi ruang evaluasi terhadap kinerja kepengurusan selama lima tahun terakhir.
“Selaku pembina, kami berharap semua kegiatan dilaksanakan sesuai dengan aturan yang ada di PD/PRT Fatayat NU. Konferensi jangan hanya dijadikan ajang pemilihan ketua umum saja, tetapi juga dijadikan ajang evaluasi kinerja selama lima tahun, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilaksanakan,” kata Umi Kulsum, Sabtu (24/10/2026).
Mantan Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tuban yang kini menjabat Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tuban itu juga mengingatkan agar seluruh kandidat dan pendukungnya menghindari praktik politik uang selama proses konferensi.
Ia menilai, risywah bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan yang menjadi dasar pengabdian Fatayat NU. Karena itu, seluruh kader diharapkan mengedepankan etika, integritas, dan persaingan yang sehat dalam menentukan pemimpin organisasi.
Menurut Umi, Fatayat NU merupakan organisasi keagamaan yang memiliki tanggung jawab menjaga marwah organisasi serta mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah, bukan menjadi arena perebutan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.
“Bermain politik uang di Fatayat tidak akan ada berkah dan maslahahnya. Jika ada, para pembina tidak akan rela, karena selama ini kader Fatayat berusaha menjaga marwah dan terus berusaha menyebarkan benteng ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah yang melarang itu (risywah),” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan dari sekadar pergantian kepemimpinan, Konfercab diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan kader dan memastikan Fatayat NU Tuban tetap menjadi ruang pengabdian, pemberdayaan perempuan, serta penyebaran nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Editor : Abdul Rohman