Kronologi Dugaan Keracunan 178 Peserta Pradik PPDS Unair, Gejala Muncul 30 Menit Usai Makan

Reporter : Saputra
RSUD Dr. Soetomo saat memberikan keterangan pers di RSUD Dr. Soetomo.(Saputra/ Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Dugaan keracunan massal yang menimpa peserta Pra-pendidikan (Pradik) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya terungkap lebih rinci.

Sebanyak 178 orang dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan, terdiri dari 172 peserta Pradik PPDS dan enam karyawan RSUD Dr. Soetomo. Gejala mulai dirasakan sekitar 30 menit setelah peserta mengonsumsi nasi kotak saat waktu istirahat.

Kabag Diklat RSUD Dr. Soetomo, dr. Astindari, menjelaskan rangkaian kejadian bermula ketika konsumsi berupa nasi kotak tiba di lingkungan rumah sakit pada pagi hari.

"Jadi untuk konsumsi nasi kotaknya itu datang jam 09.00 WIB, di antar dari FK ke GPDT (Gedung Pusat Diagnostik Terpadu) lantai 2 (RSUD Dr Soetomo)," kata dr. Astindari, Selasa (29/09/2026).

Setelah tiba di GPDT lantai 2, makanan kemudian dibawa menuju lokasi kegiatan Pradik di lantai 7. Proses tersebut dilakukan sekitar pukul 09.15 WIB.

Selanjutnya, sekitar pukul 09.30 WIB, nasi kotak mulai ditata di meja yang berada di hall GPDT. Namun makanan tersebut belum langsung dikonsumsi oleh para peserta.

Nasi kotak baru dibagikan ketika kegiatan memasuki waktu istirahat sekitar pukul 11.30 WIB. Peserta kemudian mengonsumsi makanan yang telah disediakan tersebut.

Tidak berselang lama, sejumlah peserta mulai merasakan gangguan kesehatan. Keluhan pertama muncul sekitar 30 menit setelah makanan dikonsumsi, sementara pada korban lainnya gejala baru dirasakan beberapa jam kemudian.

"Dan gejala yang dialami PPDS, onset-nya itu mulai kurang lebih 30 menit sampai 4 jam setelah mengonsumsi makanan tersebut," terang Astindari.

Gejala yang dilaporkan antara lain mual, muntah, diare hingga pusing. Pendataan kemudian dilakukan untuk mengetahui jumlah peserta yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan.

Dari pendataan tersebut, jumlah orang yang mengalami gejala mencapai 178 orang. Rinciannya, 172 merupakan peserta Pradik PPDS FK Unair dan enam lainnya merupakan karyawan RSUD Dr. Soetomo yang ikut mengonsumsi makanan tersebut.

Sebanyak 12 orang sempat mendapatkan penanganan medis. Mereka menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo maupun sejumlah rumah sakit lain setelah mengalami gejala.

Pada hari berikutnya, seluruh korban yang sempat mendapatkan perawatan telah diperbolehkan pulang. Meski demikian, kondisi mereka tetap dipantau oleh pihak terkait.

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah pembiayaan penanganan medis para korban. Wakil Direktur Diklit dan SDM RSUD Dr. Soetomo, dr. Damayanti Tinduh, mengatakan untuk sementara biaya perawatan ditangani oleh RSUD Dr. Soetomo.

"Namun ada beberapa yang tidak bisa memanfaatkan karena tidak bisa menggunakan BPJS-nya dalam situasi seperti ini. Jadi ini memang masih akan tetap kami handle dulu untuk sementar," ujarnya.

Pihak rumah sakit memastikan penanganan korban menjadi prioritas, terlepas dari persoalan administrasi maupun pembiayaan yang muncul setelah kejadian tersebut.

Dirut RSUD Dr. Soetomo, Prof. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, mengatakan rumah sakit terus melakukan koordinasi dengan Fakultas Kedokteran Unair untuk menangani kondisi para peserta.

"Jadi prioritas memang keselamatan dan tentu tidak mungkin diskusi biaya di depan ya. Tapi pokoknya kita handle, nanti selanjutnya tentu berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran, tapi yang penting adik-adik sudah tertangani dengan baik," pungkasnya.

Sementara itu, penyebab pasti munculnya gangguan kesehatan tersebut masih harus dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Munculnya gejala setelah konsumsi makanan menjadi bagian dari rangkaian kejadian yang kini tengah ditelusuri pihak terkait.

Kasus ini menjadi perhatian karena jumlah peserta yang mengalami gejala mencapai 178 orang dalam satu kegiatan Pradik PPDS. Penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi dan hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru