Jakarta, MEMANGGIL.CO - Rupiah kembali melewati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), nilai tukar rupiah berada di Rp18.007 ketika harga minyak dunia juga bergerak tinggi.
Data Bloomberg hingga pukul 09.50 WIB mencatat rupiah melemah 29 poin atau 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pergerakan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap harga energi dan kondisi pasar keuangan global.
Harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$106 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bergerak sekitar US$93 per barel.
Kondisi tersebut membuat perkembangan rupiah dan harga minyak menjadi perhatian karena keduanya memiliki kaitan dengan biaya impor, energi, inflasi, serta ruang fiskal pemerintah.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkat. Yield Treasury AS tenor 10 tahun dilaporkan mencapai sekitar 5,27 persen, sehingga pergerakan dolar AS menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar negara berkembang.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar perubahan harga komoditas global. Pergerakannya berkaitan dengan penerimaan negara, belanja energi, subsidi, impor, hingga inflasi.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menyoroti potensi tekanan apabila harga minyak tinggi bertahan dalam waktu lama. Dalam analisis yang dikutip sebelumnya, ia membandingkan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel dengan ICP Juli yang telah mencapai US$81,68 per barel.
Perbedaan tersebut menunjukkan harga minyak aktual telah berada di atas asumsi yang digunakan dalam anggaran negara.
Menurut Ibrahim, harga ICP pada kisaran US$80-US$90 per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan hanya bersifat sementara. Namun, tekanan terhadap fiskal dapat meningkat apabila harga minyak bertahan pada level yang lebih tinggi selama beberapa bulan.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah memiliki sejumlah pilihan kebijakan, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi energi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestik.
Kenaikan harga minyak juga memiliki dampak terhadap penerimaan negara. Berdasarkan estimasi yang dikutip Ibrahim, setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel berpotensi menambah pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun hingga Rp4 triliun.
Namun, kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan belanja negara. Estimasi tersebut menyebut tambahan belanja bisa mencapai sekitar Rp10,3 triliun untuk setiap kenaikan ICP US$1 per barel.
Dengan demikian, terdapat potensi tekanan terhadap defisit apabila peningkatan belanja akibat kenaikan harga minyak lebih besar dibandingkan tambahan penerimaan negara.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga memiliki konsekuensi terhadap biaya impor. Barang, bahan baku, dan komoditas yang dibeli menggunakan dolar AS membutuhkan rupiah lebih banyak ketika nilai tukar melemah.
Dampaknya akan berbeda pada setiap sektor karena tingkat ketergantungan terhadap impor tidak sama. Namun, pelemahan rupiah secara umum menjadi faktor yang diperhatikan dunia usaha dalam menghitung biaya produksi dan pengadaan.
Untuk sektor energi, kombinasi harga minyak dunia yang tinggi dan rupiah yang melemah dapat menjadi perhatian tambahan karena Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak.
Pergerakan rupiah pada Selasa (29/9/2026) juga terjadi di tengah tekanan pasar keuangan global. Selain kenaikan yield Treasury AS, perkembangan harga komoditas ikut menjadi perhatian investor.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Kondisi pasar global, arah kebijakan moneter negara maju, harga minyak, serta arus modal dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Bagi pemerintah, perkembangan harga minyak menjadi salah satu variabel yang perlu diperhatikan dalam menjaga keseimbangan fiskal. Sementara bagi Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi perekonomian domestik.
Dengan rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS dan Brent bertahan di atas US$100 per barel, dua indikator tersebut menjadi perhatian pasar dalam membaca arah ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Pergerakan harga minyak dan nilai tukar selanjutnya akan menjadi faktor penting yang turut menentukan tekanan terhadap biaya impor, energi, inflasi, serta pengelolaan APBN.
Editor : Redaksi