Surabaya, MEMANGGIL.CO - Bank Indonesia (BI) Jawa Timur menggenjot penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah dengan menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tahun ini, BI Jawa Timur menargetkan fasilitasi sertifikasi halal bagi 600 mitra UMKM.
Langkah tersebut dilakukan di tengah penerapan kewajiban sertifikasi halal bagi produk yang masuk dalam ketentuan pemerintah. BI menilai kesiapan pelaku usaha menjadi salah satu kunci agar UMKM tidak hanya mampu memenuhi regulasi, tetapi juga memiliki daya saing lebih kuat.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur Yono Haryono mengatakan, Jawa Timur memiliki modal besar untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi syariah nasional. Potensi itu ditopang keberadaan ratusan pondok pesantren berskala besar sekaligus ekosistem usaha halal yang terus berkembang.
“Berdasarkan regulasi pemerintah, kewajiban bersertifikat halal mulai diberlakukan secara efektif,” kata Yono saat ditemui usai acara Capacity Building Media di Solo, Senin (5/10/2026).
Menurut Yono, BI Jawa Timur tidak hanya mendorong pelaku UMKM memahami kewajiban sertifikasi halal. Pendampingan juga diarahkan agar proses sertifikasi dapat diikuti dengan peningkatan kualitas produk dan penguatan kapasitas usaha.
“Tahun ini, BI Jawa Timur menargetkan fasilitasi sertifikasi halal bagi 600 mitra UMKM,” ungkapnya.
Jawa Timur Jadi Basis Ekonomi Syariah
Yono mengatakan besarnya potensi ekonomi syariah di Jawa Timur menjadi salah satu alasan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa secara konsisten digelar di Surabaya.
Berbeda dengan wilayah Sumatera maupun Kawasan Timur Indonesia yang penyelenggaraannya dilakukan secara bergilir, Jawa Timur dinilai memiliki ekosistem yang cukup kuat untuk menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi syariah.
Penguatan ekosistem tersebut dilakukan melalui kolaborasi BI Jawa Timur dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta pemerintah kabupaten dan kota. Program yang dijalankan mencakup pendampingan pelaku usaha hingga penguatan sumber daya manusia di sektor halal.
Pendampingan antara lain dilakukan melalui pelatihan, penyediaan pendamping proses produk halal, serta fasilitasi bagi juru sembelih halal atau Juleha. Upaya tersebut diharapkan mempercepat lahirnya lebih banyak pelaku usaha yang memenuhi standar halal sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Peluang Produk Halal ke Pasar UEA
Tak hanya memperkuat pasar domestik, BI Jawa Timur juga melihat peluang ekspansi produk halal Indonesia ke pasar internasional. Salah satunya melalui kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA).
Menurut Yono, UEA memiliki potensi besar sebagai mitra karena didukung kapasitas pembiayaan dan pasar produk halal yang luas. Produk Indonesia seperti makanan halal dan modest fashion dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh di kawasan tersebut.
“UEA dinilai memiliki keunggulan dari sisi pembiayaan dan potensi pasar yang besar untuk produk halal asal Indonesia, seperti halal food dan modest fashion,” ujarnya.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada perluasan pasar. BI juga melihat peluang masuknya investasi dari kawasan Timur Tengah untuk mendukung berbagai proyek berbasis ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
Yono berharap penguatan ekosistem halal dari hulu hingga hilir dapat membuat produk Indonesia semakin kompetitif. Dengan dukungan sertifikasi, pembiayaan, pendampingan, serta akses pasar internasional, UMKM diharapkan mampu naik kelas dan ikut memperbesar kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional.
Editor : Redaksi