JATENG MEMANGGIL- Tidak sekadar menambah pengetahuan, program pengabdian internasional Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang di Kelantan, Malaysia, menjadi ruang penting bagi diaspora Indonesia untuk memperkuat jati diri dan kemandirian ekonomi di negeri jiran.
Kegiatan yang berlangsung di Pangkalan Chepa ini melibatkan puluhan WNI legal yang sehari-hari bekerja di berbagai sektor. Mereka diajak bukan hanya belajar literasi keuangan, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan solidaritas komunitas diaspora.
“Selama ini banyak WNI yang bisa bekerja keras, tapi belum semua mampu mengelola hasil jerih payahnya. Melalui literasi keuangan dan keterampilan usaha, kami ingin membekali mereka agar lebih mandiri, tidak sekadar menjadi pekerja, tapi juga punya peluang berwirausaha," kata Saiful Bahri, dosen FEB Unwahas sekaligus ketua tim pelaksana, melalui pres rilisnya secara tertulis, Sabtu (30/08/2025).
Saiful menjelaskan, materi yang diberikan dalam prpgram itu berfokus pada kebutuhan nyata diaspora. Mulai dari pencatatan keuangan rumah tangga, simulasi aplikasi keuangan digital, hingga pelatihan usaha berbasis potensi lokal seperti kuliner dan kerajinan tangan. Peserta juga diajak memahami strategi pemasaran melalui platform digital yang dekat dengan keseharian mereka, seperti WhatsApp, Facebook, hingga Instagram.
Sementara, menurut salah satu peserta asal Kendal, Jateng, Rini mengatakan, kegiatan ini tidak hanya diisi oleh penyuluhan satu arah, tetapi juga praktik langsung. Beberapa peserta bahkan mencoba meracik produk kuliner sederhana dan mempresentasikan ide usaha mereka di hadapan komunitas.
“Yang paling berkesan, kami merasa tidak sendirian. Dengan kegiatan ini, kami semakin yakin bahwa meski hidup di perantauan, komunitas Indonesia bisa saling menguatkan,” ungkap Rini.
Lebih lanjut Rini menyampaikan, program ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tinggi di Indonesia tidak berhenti pada ruang kelas. Melalui pengabdian lintas negara, Unwahas berusaha menjembatani kebutuhan diaspora dengan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan.
"Dengan bekal literasi keuangan, keterampilan usaha, dan jejaring komunitas yang kuat, diaspora Indonesia di Malaysia diharapkan mampu berdiri lebih tegak, tidak hanya sebagai pekerja migran, tetapi juga sebagai agen ekonomi yang berdaya dan beridentitas," ujarnya.