Blora, MEMANGGIL.CO - Memasuki bulan Sya’ban 1447 Hijriah atau yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan Ruwah, masyarakat Jawa kembali mengingat berbagai pitutur dan pantangan yang secara turun-temurun dipercaya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Pada tahun 2026, 1 Sya’ban 1447 H jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026, menandai dimulainya bulan Ruwah.
Berdasarkan Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, bulan Ruwah sejatinya termasuk bulan yang baik untuk menggelar hajat besar seperti pernikahan atau acara keluarga.
Namun demikian, ada sejumlah pantangan dan hal yang perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kesialan atau ketidakharmonisan di kemudian hari.
1. Hari yang Perlu Dihindari
Dalam perhitungan Jawa yang dikenal sebagai Sangaring Sasi, setiap bulan memiliki hari-hari tertentu yang dianggap kurang baik. Untuk bulan Ruwah, hari Rabu dan Kamis termasuk hari yang dianjurkan untuk dihindari jika ingin menggelar hajatan atau memulai pekerjaan penting.
Masyarakat Jawa meyakini, mengabaikan pantangan ini bisa membawa rintangan atau ketidakstabilan dalam perjalanan hidup ke depan.
2. Tidak Terlalu Dekat dengan Ramadan
Meski Ruwah dinilai baik, terdapat pula anjuran agar tidak menggelar pesta besar terlalu dekat dengan datangnya bulan Ramadan.
Tradisi ini bukan semata-mata larangan mutlak, melainkan bentuk penghormatan agar masyarakat dapat lebih fokus mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut ibadah puasa.
3. Mitos “Ruwah Rawih”
Di beberapa daerah, berkembang anggapan bahwa menikah di bulan Ruwah bisa menyebabkan rumah tangga menjadi “ruwah-rawih” atau tidak stabil.
Namun, dalam catatan Betaljemur Adammakna, bulan Ruwah justru digolongkan sebagai bulan yang membawa kedamaian, keselamatan, dan ketenteraman, asalkan hari pelaksanaannya dipilih dengan perhitungan yang tepat.
4. Bulan Mengingat Leluhur
Bulan Ruwah juga identik dengan tradisi Nyadran, yaitu ziarah kubur dan mendoakan para leluhur. Karena itu, pantangan utama di bulan ini adalah melupakan bakti kepada orang tua dan leluhur.
Masyarakat Jawa meyakini, menghormati leluhur menjadi bagian penting sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Bagi masyarakat yang berencana menggelar hajatan di bulan Ruwah 2026, perhitungan hari baik berdasarkan neptu weton pengantin atau pelaku hajat tetap dianjurkan.
Tujuannya agar acara berjalan lancar, penuh berkah, dan sesuai dengan tuntunan budaya Jawa yang telah diwariskan turun-temurun.
Editor : Ahmad Adirin