Surabaya, MEMANGGIL.CO - Kalau biasanya Pancasila dihafal, kali ini dibidik. Memperingati Bulan Bung Karno 2026, Direktorat Sistem Informasi YPTA Surabaya menggelar Seminar Fotografi Jurnalistik bertema “Wajah Pancasila di Era Nasionalisme Modern” di Gedung Rektorat Lantai 6 Untag Surabaya, Kamis (11/06/2026).
Kegiatan ini juga sebagai ajang apresiasi lomba “Pancasila dalam 1 Bingkai”. Sekitar 200 peserta dari SMP, SMA, mahasiswa, sampai masyarakat umum ikut ambil bagian.
Awalnya ditujukan bagi peserta Jawa Timur, antusiasme yang tinggi membuat peserta dari berbagai daerah di Indonesia turut berpartisipasi.
Direktur Sistem Informasi YPTA Surabaya Eko Halim Santoso mengatakan, fotografi dipilih karena dekat dengan dunia anak muda.
"Kalau kita bicara fotografi, sebenarnya acara ini dibuat sebagai ruang belajar dan ruang berkarya, sekaligus untuk mengingat kembali nilai-nilai Pancasila. Pancasila tidak hanya dipahami sebagai teori atau narasi saja, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui fotografi,” terang Eko
Menurutnya, foto kuat karena bicara lebih dari kata. Satu jepretan bisa merekam gotong royong, toleransi, persatuan, sampai kepedulian sosial.
"Foto yang baik itu yang punya makna. Indah boleh, tapi harus bisa menggerakkan kesadaran orang yang lihat," jelas Eko.
Lewat tema "Pancasila dalam 1 Bingkai", peserta ditantang memburu nilai Pancasila di sekitar diantaranya tolong-menolong, keberagaman di pasar, atau hormat pada beda keyakinan.
"Saat mereka membidik, mereka sebenarnya merekam pesan kebangsaan. Membuktikan Pancasila masih relevan dan hidup di tengah masyarakat," tegasnya.
Ketua YPTA Surabaya J. Subekti menegaskan Bulan Bung Karno adalah agenda rutin YPTA bersama Untag Surabaya, SMATAG, dan SMPTAG. Tujuannya satu melawan lupa.
"Supaya mahasiswa dan gen Z ingat, Indonesia merdeka berdiri di atas Pancasila. Cita-cita Bung Karno soal kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, kepribadian budaya, sampai sekarang belum tuntas," katanya.
Subekti menyorot kesan gen Z "jauh dari Pancasila". Tapi bukan karena mereka menolak.
"Mereka kehilangan figur. Jarang lihat contoh nyata orang Pancasilais di kehidupan sehari-hari. Makanya susah menarasikan pengamalannya," paparnya.
Oleh sebab itu, YPTA terus membuat kegiatan relevan seperti pameran foto Bung Karno, pinjaman koleksi lukisan, sampai lomba foto. Bukan untuk kultus individu, tapi untuk ingatkan visi Bung Karno yang visioner.
"Kalau ada yang mengingatkan, jiwa Pancasila mereka bangun lagi. Di Untag buktinya. Mahasiswa respons baik tiap diajak bicara Pancasila lewat karya," pungkas Subekti.
Lewat seminar ini, YPTA berharap gen Z tak hanya hafal 5 sila. Tapi mampu menghidupkannya dan menyebarkannya lewat karya kreatif yang inspiratif.
Editor : Redaksi