Surabaya, MEMANGGIL.CO - Dari rumah sederhana di Tanjung Bumi, Bangkalan, kain batik dikerjakan perlahan dengan tangan para perajin lokal sebelum dibawa menembus pasar yang lebih luas.
Batik Melathepote milik Amirun menjadi salah satu produk UMKM yang berupaya mempertahankan karakter batik khas Tanjung Bumi sekaligus mencari ruang di pasar nasional melalui pameran dan berbagai agenda promosi.
Upaya tersebut mulai menunjukkan perkembangan. Amirun menyebut penjualan Batik Melathepote pada tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, meski produksinya masih bertumpu pada skala rumahan.
"Penjualan tahun ini mengalami kenaikan sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencatatkan omzet sekitar 25 unit," kata Amirun saat ditemui di pameran Fesyar Jawa 2026 di Grand City, Minggu (27/9/2026).
Bagi Amirun, membesarkan usaha batik bukan perkara mempercepat produksi sebanyak-banyaknya. Setiap kain memiliki tahapan pengerjaan yang membutuhkan ketelitian, terlebih untuk produk batik tulis dan gentongan dengan tingkat kerumitan tinggi.
Batik Melathepote dikerjakan secara mandiri di kediaman Amirun di Tanjung Bumi dengan melibatkan perajin lokal. Untuk kebutuhan kain, bahan baku masih dipasok dari Surabaya, sementara pengerjaan teknis dilakukan dengan mempertahankan metode tradisional.
Kondisi tersebut membuat waktu produksi setiap kain tidak seragam. Motif, tingkat kerumitan, teknik pewarnaan, hingga proses pengulangan pembatikan menjadi faktor yang menentukan berapa lama sebuah kain dapat diselesaikan.
Pada batik dengan pengerjaan sederhana, proses produksi dapat berlangsung lebih singkat. Namun, untuk batik gentongan dan batik tulis kelas atas khas Bangkalan, waktunya bisa jauh lebih panjang.
"Batik gentongan memerlukan waktu 1 hingga 1,5 tahun, bahkan bisa sampai 2 tahun. Prosesnya rumit karena melalui perwarnaan dan pembatikan berulang. Kain harus dibatik, dilorot, dibatik kembali, lalu dilorot lagi untuk mendapatkan detail dan warna yang matang," ungkap Amirun.
Proses panjang tersebut memang menjadi karakter penting batik gentongan Tanjung Bumi. Teknik pewarnaannya menggunakan gentong atau tempayan sebagai bagian dari proses, sehingga pengerjaan tidak bisa dilakukan seperti produksi tekstil massal.
Tanjung Bumi sendiri dikenal sebagai salah satu sentra batik di Kabupaten Bangkalan. Ekosistem perajinnya tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Desa Paseseh, dengan berbagai produk batik tulis, semi-gentongan hingga gentongan.
Karakter tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pelaku UMKM. Ketika permintaan pasar meningkat, kapasitas produksi tidak bisa serta-merta digenjot karena sebagian proses masih membutuhkan keterampilan tangan dan waktu yang panjang.
Di sisi lain, lamanya proses pengerjaan justru menjadi bagian dari nilai yang ditawarkan kepada konsumen. Setiap lembar kain memiliki proses yang berbeda dan membutuhkan ketelitian sejak tahap pembatikan hingga pewarnaan.
Dari Rumah Perajin Menuju Pasar Lebih Luas
Untuk mengatasi keterbatasan pasar lokal, Amirun memilih membawa produknya ke berbagai pameran. Baginya, pameran bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga kesempatan memperkenalkan identitas Batik Melathepote kepada calon konsumen dari luar Madura.
Salah satu kesempatan tersebut hadir melalui Fesyar Jawa 2026 di Grand City Surabaya. Dalam ajang tersebut, produk UMKM daerah dipertemukan dengan pengunjung dan calon pembeli dari berbagai daerah.
Strategi mengikuti pameran juga sejalan dengan pola pemasaran yang selama ini digunakan sejumlah pelaku UMKM Batik Tanjung Bumi untuk memperluas pasar, di samping pemanfaatan media sosial dan pengembangan jaringan dengan berbagai pihak.
Amirun menyebut pemasaran Batik Melathepote tidak lagi terbatas di wilayah Madura. Produk tersebut telah beberapa kali dikirim ke Jakarta melalui fasilitasi dinas terkait.
"Selain penjualan lokal, produk Batik Melathepote Tanjung Bumi juga telah beberapa kali dikirim ke Jakarta melalui fasilitasi Dinas Kerajinan setempat," terang Amirun.
Pengiriman ke Jakarta menjadi salah satu pintu bagi produk batik rumahan tersebut untuk mengenalkan diri kepada pasar di luar Jawa Timur. Namun, memperluas pasar tetap membutuhkan konsistensi kualitas, promosi dan kemampuan menjaga ketersediaan produk.
Tantangan itu semakin terasa untuk batik dengan proses produksi panjang. Ketika satu kain membutuhkan waktu hingga satu atau dua tahun, pelaku usaha harus mampu mengatur produksi sekaligus memenuhi permintaan tanpa mengorbankan karakter tradisional yang menjadi kekuatan produk.
Di tingkat daerah, Batik Tanjung Bumi sendiri memiliki potensi ekonomi yang cukup beragam. Portal UMKM Kabupaten Bangkalan bahkan mencantumkan berbagai produk batik Tanjung Bumi, mulai dari batik tulis hingga batik gentongan dengan variasi harga yang sangat lebar sesuai jenis dan kualitasnya.
Pengembangan pasar digital juga mulai menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem batik Tanjung Bumi. Salah satu program terbaru di Desa Paseseh diarahkan untuk memperkuat promosi digital, identitas visual dan galeri mini bagi sejumlah UMKM batik.
Bagi perajin seperti Amirun, perkembangan tersebut membuka peluang baru. Produk yang sebelumnya dikenal terutama di lingkungan sekitar kini memiliki kesempatan untuk diperkenalkan kepada konsumen dari berbagai daerah.
Namun, perluasan pasar tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya penjualan. Di balik setiap kain yang terjual terdapat aktivitas para perajin lokal yang mempertahankan keterampilan membatik secara manual.
Amirun berharap perhatian terhadap UMKM batik daerah terus ditingkatkan. Dukungan promosi, pameran dan akses pasar dinilai penting agar usaha rumahan seperti Batik Melathepote dapat bertahan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para perajin yang terlibat.
Perjalanan Batik Melathepote menunjukkan bahwa usaha rumahan tidak selalu berarti memiliki jangkauan pasar yang kecil. Dengan mempertahankan kualitas dan memanfaatkan berbagai ruang promosi, kain dari Tanjung Bumi perlahan dapat diperkenalkan ke konsumen di luar daerah asalnya.
Di tengah perubahan tren fesyen dan persaingan produk tekstil, Batik Melathepote mencoba mengambil jalannya sendiri dengan mempertahankan proses tradisional sambil membuka pintu menuju pasar nasional.
Editor : Redaksi