Dari Lahan Pembuangan Sampah Jadi Kebun Melon, Warga Surabaya Panen 500 Buah Premium

Reporter : Saputra
Ketua RW 07 Semolowaru Indah, Yunus saat merawat kebun melon Sweet Lavender di Green House Hidroponik.(Saputra/ Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Lahan fasilitas umum yang sebelumnya identik dengan ilalang dan tumpukan sampah kini berubah menjadi kawasan produktif di Perumahan Semolowaru Indah, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Dari lahan yang sempat terbengkalai tersebut, warga berhasil membangun greenhouse hidroponik dan membudidayakan lebih dari 500 buah melon premium jenis Sweet Lavender.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Warga RW 07 Semolowaru Indah mengumpulkan gagasan, tenaga, hingga dana secara gotong royong untuk mengubah lahan yang sebelumnya justru menjadi beban lingkungan menjadi sumber nilai ekonomi bagi warga.

Ketua RW 07 Semolowaru Indah, Yunus, mengatakan kondisi lahan fasum sebelumnya cukup memprihatinkan. Selain dipenuhi ilalang, kawasan tersebut juga kerap digunakan sebagai tempat pembuangan sampah sehingga warga harus mengeluarkan biaya untuk menjaga kebersihannya.

“Sebelumnya tanah fasum ini tak terawat. Ilalangnya tinggi, lalu juga dijadikan tempat pembuangan sampah juga. Dampaknya kan membuat lingkungan nggak sehat juga,” ujar Yunus, Rabu (30/9/2026).

Persoalan tersebut kemudian mendorong warga mencari solusi yang tidak sekadar membersihkan lahan. Mereka ingin fasum yang tersedia dapat dimanfaatkan menjadi kawasan produktif sehingga keberadaannya memberikan manfaat langsung bagi lingkungan dan warga.

Salah satu pertimbangannya adalah biaya kebersihan yang harus ditanggung bersama. Warga sebelumnya harus mengeluarkan iuran sekitar Rp16 juta setiap tahun untuk membayar petugas yang menangani kebersihan lahan tersebut.

Dari rembuk warga, muncul gagasan untuk mengembangkan pertanian perkotaan menggunakan teknologi greenhouse dan hidroponik. Dengan pendampingan instruktur teknologi rumah kaca, warga kemudian memilih melon premium Sweet Lavender sebagai komoditas pertama yang dibudidayakan.

“Selain itu melon ini kan merupakan buah yang digemari masyarakat luas sehingga lebih mudah untuk dijual dan memberikan nilai ekonomis yang tinggi bagi warga,” jelas Yunus.

Pembangunan greenhouse dilakukan secara bertahap selama sekitar enam bulan. Warga menyiapkan instalasi air sekaligus sistem hidroponik dengan modal awal mencapai Rp80 juta yang bersumber dari iuran masyarakat.

Hasilnya mulai terlihat pada musim panen perdana. Lebih dari 500 buah melon Sweet Lavender kini tumbuh di dalam greenhouse yang berdiri di atas lahan yang sebelumnya terbengkalai.

Tidak hanya menghasilkan buah, kebun tersebut juga dirancang sebagai sumber pendapatan baru bagi lingkungan. Sistem budidaya yang diterapkan memungkinkan warga menargetkan panen hingga empat kali dalam setahun.

Untuk memperkenalkan hasil kebun sekaligus membuka akses penjualan langsung kepada masyarakat, warga akan menggelar “Wisata Petik Buah Kebun Kota Melinda”. Kegiatan tersebut berlangsung selama sembilan hari, mulai 3 hingga 11 Oktober 2026.

Masyarakat umum dapat datang dan merasakan pengalaman memetik melon langsung dari greenhouse. Melon hasil petikan tersebut dijual dengan harga Rp35 ribu per kilogram.

“Untuk kegiatan tersebut bisa diikuti masyarakat umum cukup dengan membeli melon yang dipetik dengan harga Rp35 ribu per kilo,” kata Yunus.

Konsep tersebut sekaligus menjadi cara warga memperkenalkan potensi pertanian perkotaan kepada masyarakat. Lahan yang sebelumnya dipandang tidak produktif kini memiliki fungsi baru sebagai ruang budidaya sekaligus tempat aktivitas warga.

Keuntungan dari penjualan melon nantinya tidak semata-mata dikembalikan sebagai pendapatan pengelola. Warga merencanakan hasil kebun digunakan untuk membantu membiayai kebutuhan rutin lingkungan, termasuk iuran kebersihan dan keamanan.

“Kalau memang nanti hasilnya belum cukup untuk subsidi, minimal kita pengurus RW tidak perlu menaikkan iuran. Sehingga bisa meringankan beban warga,” tambah Yunus.

Bagi warga, keberhasilan panen perdana menjadi pijakan untuk memperluas pemanfaatan lahan fasum. Setelah melon, mereka mulai menyiapkan rencana budidaya komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi dan bisa dikembangkan dalam skala lingkungan.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah memanfaatkan sisa lahan untuk kebun cabai. Komoditas tersebut diharapkan dapat menambah sumber pemasukan sekaligus mendukung kebutuhan pangan warga.

“Nantinya ke depan kami ingin warga sini bisa bebas iuran dari hasil kebun di tanah fasum kita ini. Syukur-syukur bisa jadi ketahanan pangan,” pungkas Yunus.

Transformasi lahan di Semolowaru Indah tersebut menunjukkan bagaimana fasilitas umum yang sebelumnya terbengkalai dapat diubah menjadi aset produktif ketika dikelola secara bersama.

Dari lahan yang pernah menjadi tempat sampah, warga kini memiliki greenhouse dengan ratusan melon premium dan peluang pemasukan baru bagi lingkungan.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru