Surabaya, MEMANGGIL.CO— Perdebatan panas dan provokasi yang kerap memicu perpecahan di media sosial menjadi ancaman baru bagi persatuan bangsa.
Pakar sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rojil Nugroho Bayu Aji, mengungkapkan, ancaman terhadap keutuhan Indonesia kini tak lagi berwujud serangan fisik atau senjata, melainkan bersembunyi di balik kolom komentar dan algoritma media sosial.
Memomentumkan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Rojil menilai maraknya aksi saling caci dan polarisasi di dunia maya merupakan indikator berbahaya yang dapat mengikis nilai-nilai dasar negara dari dalam.
Menurutnya, pemeliharaan konflik akibat perbedaan pandangan politik maupun pilihan di ruang digital berpotensi memecah belah sesama anak bangsa.
"Merawat Pancasila hari ini tidak cukup dengan sekadar hafalan atau seremoni upacara, melainkan harus diturunkan secara konkret menjadi filter harian saat memegang ponsel," kata Rojil, Jumat, 2 Oktober 2026.
Ia juga menekankan perlunya mengimplementasikan nilai kemanusiaan dan musyawarah dalam berinteraksi di ruang digital.
"Etika bermedia sosial harus dijadikan kompas agar masyarakat tidak mudah menyebarkan hoaks, merundung, atau menghujat, melainkan mampu berdiskusi secara sehat dan menerima perbedaan pendapat secara konstrukti," tandas Rojil.
Secara khusus, ia juga menyoroti peran pentingnya generasi muda dan mahasiswa sebagai kelompok paling aktif di media sosial untuk meredam suhu panas perdebatan toksik.
"Anak muda diimbau untuk tidak mudah dimanfaatkan oleh narasi provokatif dan berani menjadi pemutus rantai perpecahan melalui diskusi yang rasional," ungkapnya.
Ronil menambahkan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini menjadi pengingat bagi publik bahwa tantangan terbesar persatuan saat ini terletak pada kemampuan masyarakat dalam mengendalikan diri dan bijak dalam bermedia sosial.