Surabaya, MEMANGGIL.CO - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai cerdas bernama Battery Management Sensor (BMSense). Inovasi tersebut memadukan material berbasis kuantum dengan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi baterai secara real-time.
Pengembangan BMSense dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi penyimpanan energi seiring pemanfaatan energi terbarukan. Teknologi tersebut disiapkan untuk mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sistem penyimpanan energi cadangan, hingga sistem energi off-grid.
Ketua Tim Peneliti BMSense, Grasianto S.Pd., M.Sc., Ph.D., mengatakan inovasi tersebut dikembangkan untuk memberikan sistem penyimpanan energi yang tidak hanya berfungsi menyimpan daya, tetapi juga mampu memberikan informasi mengenai kondisi baterai.
“Baterai ini dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pemantauan, efisiensi energi, serta fleksibilitas sistem penyimpanan,” kata Grasianto, Minggu (4/10/2026).
BMSense menggunakan material LiPo Graphene berbasis material kuantum yang dipadukan dengan Battery Management System (BMS), mikrokontroler, dan sejumlah sensor. Kombinasi tersebut memungkinkan kondisi baterai dipantau melalui sistem digital.
Dalam konfigurasi yang dikembangkan, BMSense memiliki subkulit 3s dengan tegangan nominal 11,1 volt dan tegangan penuh mencapai 12,6 volt. Sistem pemantauannya dapat membaca sejumlah parameter penting, termasuk tegangan setiap sel, arus, suhu, serta kondisi baterai.
“Kemampuan tersebut memberikan informasi mengenai kondisi baterai, sehingga pemantauan sistem penyimpanan energi dapat dilakukan secara lebih terukur,” jelas dosen Departemen Kimia ITS tersebut.
Menurut Grasianto, kebutuhan terhadap teknologi penyimpanan energi berpotensi terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan PLTS.
Selain itu, elektrifikasi sektor industri dan komersial serta kebutuhan sistem energi di wilayah terpencil juga membuka peluang penerapan teknologi baterai cerdas.
Pengembangan BMSense dilakukan melalui kolaborasi lintas bidang di ITS. Tim tersebut melibatkan dosen Departemen Kimia dan Departemen Teknik Instrumentasi, mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Departemen Teknik Elektro, serta PT Jokeen Solusi Teknologi dan Jokeen Energy sebagai mitra industri.
“Kolaborasi lintas bidang ini diharapkan mendorong BMSense menuju tahap implementasi dan komersialisasi,” ujarnya.
Pengembangan BMSense sekaligus diarahkan untuk mendukung pemanfaatan teknologi penyimpanan energi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan energi terbarukan.
Inovasi tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-7 mengenai energi terjangkau dan berkelanjutan serta tujuan ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur.
Melalui pengembangan teknologi tersebut, ITS mendorong agar inovasi penyimpanan energi tidak berhenti pada tahap riset.
Lebih lanjut, BMSense diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut hingga mampu diterapkan pada kebutuhan penyimpanan energi di berbagai sektor.