Surabaya,MEMANGGIL.CO — Pagi belum sepenuhnya terang ketika belasan pemetik teh mulai menyisir hamparan hijau Perkebunan Teh Gambyong, Kemuning, Kabupaten Karanganyar.  

Di bawah komando mandor kebun, mereka berpacu dengan waktu mengumpulkan pucuk-pucuk teh segar sebelum terik matahari terlalu menyengat. 

Mandor Perkebunan Teh Gambyong, Sutris, mengungkapkan, setiap blok perkebunan membentang seluas 30 hektar, dengan 14 hektar di antaranya merupakan area aktif berproduksi. Untuk mengelola luasan tersebut, setiap mandor membawahi sekitar 15 orang pemetik. 

"Aktivitas pemetikan berlangsung setiap hari, kecuali hari Minggu dan libur nasional. Para pekerja memulai aktivitas sejak pukul 06.00 WIB dan biasanya selesai antara pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, tergantung kondisi cuaca serta volume hasil panen," kata Sutris ditemui di lokasi pemetikan daun teh, Selasa, 6 Oktober 2026. 

Ia menjelaskan, sistem pengupahan bagi para pemetik mengacu pada berat hasil panen.  

Perkebunan menerapkan tarif upah untuk setiap kilogram daun teh yang berhasil dipetik.  

"Dalam sehari, rata-rata seorang pemetik mampu mengumpulkan 25 hingga 30 kilogram daun teh," ungkap Sutris. 

Upah para pekerja dibayarkan secara berkala setiap 15 hari sekali atau dua kali dalam sebulan. Sutris menambahkan, produktivitas dan kualitas panen teh sangat bergantung pada sejumlah faktor teknis dan alam. 

"Hasil panen tidak selalu sama. Tingkat produktivitas tanaman teh sangat dipengaruhi oleh pemangkasan berkala, kecukupan curah hujan, serta perawatan dan pemupukan yang rutin," pungkasnya.