Blora, MEMANGGIL.CO - Sebanyak 1.000 penari meramaikan Blora Culture Festival (BCF) 2026 di Goa Terawang Ecopark, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/2026).
Festival yang memasuki tahun ketiga ini menjadi upaya Pemerintah Kabupaten Blora melestarikan kesenian tradisional sekaligus mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ribuan penari tampil dengan kostum berwarna-warni, mengikuti irama musik tayub yang menjadi salah satu kesenian khas Blora. Pertunjukan tersebut juga diramaikan berbagai kesenian tradisional lain, seperti Barongan, Jedoran, dan Tari Prajurit Suro ing Jipang.
Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, yang akrab disapa Gus Arief, mengatakan BCF menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.
Menurutnya, pelestarian kesenian tradisional perlu berjalan beriringan dengan pengembangan destinasi wisata dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
“Kita berharap dengan adanya Blora Culture Festival ini menunjukkan bahwa budaya kita, pariwisata kita berjalan beriringan, dan sekaligus kita bisa menggerakkan juga sektor UMKM dan sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Blora,” kata Gus Arief saat menghadiri festival.
Pemkab Blora juga membidik BCF agar dapat berkembang menjadi agenda budaya yang memiliki jangkauan nasional.
Salah satu target yang ingin dicapai adalah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), program Kementerian Pariwisata yang mengangkat berbagai acara unggulan di daerah.
Gus Arief menyebut, pengembangan festival membutuhkan persiapan, promosi, dan dukungan berbagai pihak agar penyelenggaraannya semakin berkualitas.
Pemerintah daerah juga berupaya memperkuat jejaring dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah serta pengelola desa wisata dari berbagai wilayah.
Tak berhenti pada jumlah 1.000 penari, Gus Arief turut membuka peluang peningkatan skala penyelenggaraan BCF pada tahun-tahun mendatang.
Ia menyampaikan target hingga 10.000 penari dapat dipertimbangkan apabila didukung perencanaan dan anggaran yang memadai.
Selain menampilkan kesenian tradisional, BCF 2026 juga disandingkan dengan pertemuan Forum Komunikasi Desa Wisata ke-35 se-Jawa Tengah.
Kegiatan ini menghadirkan pengelola desa wisata dan perwakilan dinas pariwisata, sehingga membuka ruang pertukaran pengalaman dalam mengembangkan potensi wisata daerah.
Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Blora, Yeti Romdonah, mengatakan konsep kolaborasi sengaja dihadirkan untuk memberi ruang kepada berbagai komunitas seni.
Melalui pertunjukan bersama, beragam warisan budaya Blora diharapkan semakin dikenal oleh pengunjung.
“Konsep kolaboratif ini sengaja diciptakan untuk memeluk semua komunitas seni, memberi mereka ruang bernapas yang lebih lega, sekaligus membisikkan keindahan warisan leluhur Blora kepada setiap pasang mata pengunjung Goa Terawang,” ujar Yeti.
Penyelenggaraan festival turut mendapat dukungan dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sebagai sponsor utama.
Perwakilan EMCL, Syamsuar Syamsuddin, menyampaikan bahwa Blora merupakan wilayah penting bagi perusahaan dan pihaknya berkomitmen untuk tumbuh bersama masyarakat serta pemerintah daerah.
Melalui BCF 2026, Pemkab Blora berharap kesenian tradisional tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga memberi dampak terhadap kunjungan wisata dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pengembangan festival secara berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat daya tarik Goa Terawang Ecopark sekaligus memperluas promosi wisata Kabupaten Blora.