Blora, MEMANGGIL.CO - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi penyakit menular yang perlu diwaspadai masyarakat. Untuk meningkatkan pemahaman tentang penularan, pencegahan, dan pengobatannya, RSUD dr. R. Soeprapto Cepu menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan pengunjung di ruang tunggu Poli Paru, Senin (12/10/2026).

Kegiatan bertajuk Sharing is Caring: Lawan TBC, Berobat Sampai Tuntas tersebut menghadirkan Minan Eko Sudiharso, S.Kep., Ns., sebagai narasumber. Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai penyebab tuberkulosis, cara penularan, langkah pencegahan, serta pentingnya menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Edukasi ini menyasar pasien dan pengunjung yang berada di ruang tunggu Poli Paru. Melalui penyampaian informasi secara langsung, rumah sakit berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih mengenali gejala TBC, memahami cara mengurangi risiko penularan, dan tidak mengabaikan proses pengobatan.

Minan Eko Sudiharso menekankan bahwa keberhasilan pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan pasien. Pengobatan harus dijalani sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan tidak boleh dihentikan sendiri hanya karena gejala mulai berkurang.

“TB bisa disembuhkan asalkan pasien rutin minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan hingga tuntas. Pencegahan penularan juga penting, mulai dari memakai masker, menerapkan etika batuk, hingga tidak membuang dahak sembarangan,” ujar Minan, ditulis Selasa (13/10/2026). 

TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru. Penyakit ini dapat menular melalui udara ketika seseorang yang terinfeksi TBC aktif di paru-paru mengeluarkan partikel infeksius saat batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi, terutama di ruangan dengan ventilasi buruk.

Sejumlah gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, keringat malam, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, berkurangnya nafsu makan, dan tubuh terasa lemas.

Meski demikian, gejala setiap orang dapat berbeda sehingga pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan, terutama batuk yang berlangsung dua minggu atau lebih, diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Pemeriksaan lebih awal penting untuk membantu memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat.

Selain mengenali gejala, kepatuhan menjalani terapi menjadi perhatian utama dalam edukasi tersebut. Pengobatan TBC umumnya berlangsung setidaknya enam bulan untuk banyak kasus TBC sensitif obat, tetapi durasi dapat berbeda sesuai jenis penyakit dan regimen yang ditetapkan dokter. Pasien perlu mengikuti jadwal minum obat dan kontrol yang telah ditentukan.

Menghentikan pengobatan tanpa arahan tenaga kesehatan berisiko membuat penyakit tidak tertangani dengan baik, meningkatkan kemungkinan kekambuhan, serta berkontribusi terhadap munculnya resistansi obat.

Pasien yang mengalami efek samping atau kesulitan menjalani pengobatan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, bukan menghentikan obat secara mandiri.

Upaya mencegah penularan juga perlu dilakukan secara konsisten. Masyarakat diimbau menerapkan etika batuk, menjaga sirkulasi udara di dalam rumah, membuka jendela agar udara segar dapat masuk, serta menggunakan masker sesuai anjuran tenaga kesehatan dan kondisi risiko penularan.

Pasien TBC juga membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Pendampingan selama pengobatan dapat membantu pasien menjaga kedisiplinan, menghadiri pemeriksaan lanjutan, dan menyelesaikan terapi sesuai rencana. Masyarakat pun diharapkan tidak memberikan stigma atau diskriminasi kepada penderita TBC.

Melalui kegiatan edukasi di Poli Paru tersebut, RSUD dr. R. Soeprapto Cepu mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan pernapasan dan tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

Pesan utama kegiatan ini adalah pentingnya mengenali gejala sejak dini, memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, menerapkan langkah pencegahan, serta menjalani pengobatan sampai tuntas sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

Dengan pengetahuan yang benar dan dukungan lingkungan, upaya pengendalian TBC di masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih optimal.