Sumedang, MEMANGGIL.CO - Sistem penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan mulai diterapkan di Kabupaten Sumedang. SPPG Gunung Manik, Kecamatan Tanjungsari, terpilih menjadi satu dari 60 dapur di Indonesia yang menjalankan model tersebut sebagai proyek percontohan nasional.
Berbeda dari pola distribusi makanan yang telah dikemas per porsi, konsep prasmanan memungkinkan siswa mengambil makanan secara langsung saat waktu makan. Nasi, lauk, sayur, dan buah disajikan terpisah sehingga siswa dapat menikmati makanan dalam kondisi lebih hangat dan segar.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menilai metode tersebut menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari kualitas penyajian hingga pembentukan kebiasaan positif di lingkungan sekolah.
“Dengan cara prasmanan, makanan bisa disajikan dalam kondisi lebih fresh, segar, hangat, aman, dan higienis,” ujar Dony.
Menurutnya, sistem tersebut juga memberi kesempatan kepada siswa untuk menyesuaikan porsi makanan dengan kebutuhan. Selain itu, proses pengambilan makanan secara bergantian dinilai dapat melatih kedisiplinan dan membangun kebersamaan antarsiswa.
“Dengan adanya antrean prasmanan, tumbuh kebersamaan di antara anak-anak. Mudah-mudahan ke depan terus ada perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan program makan bergizi gratis,” katanya.
Mitra SPPG Gunung Manik, Adila Naily Huda, menjelaskan bahwa penerapan MBG prasmanan merupakan inovasi dari Badan Gizi Nasional (BGN). Model tersebut dirancang untuk memperbaiki proses penyajian agar makanan dapat dikonsumsi siswa dalam kondisi yang lebih terjaga.
Pada sistem distribusi yang umum digunakan, makanan terlebih dahulu dibagi ke dalam porsi masing-masing, dikemas, kemudian dikirim ke sekolah. Proses itu membutuhkan waktu dan dapat memengaruhi suhu makanan sebelum disantap.
Melalui sistem prasmanan, komponen makanan ditempatkan secara terpisah dan disajikan ketika siswa akan makan.
“Dalam konsep prasmanan, nasi, lauk, sayur, dan buah dipisahkan. Saat disajikan kepada anak-anak, makanan lebih segar dan rasanya lebih terjaga,” kata Adila.
Pelaksanaan MBG prasmanan di sekolah tersebut telah berlangsung sekitar satu pekan. Pihak sekolah dan siswa dilibatkan dalam pengaturan antrean serta pembagian tugas penyajian makanan secara bergantian.
Adila menyebut kesiapan sekolah menjadi salah satu tantangan dalam penerapan sistem tersebut. Sebab, konsep prasmanan membutuhkan koordinasi agar proses pengambilan makanan berjalan tertib dan pelayanan kepada seluruh siswa tetap lancar.
Meski demikian, respons awal dari sekolah dan siswa dinilai positif. Para siswa menyambut baik penyajian makanan secara langsung karena dianggap lebih menyenangkan dan membuat makanan terasa hangat ketika dikonsumsi.
Faris, siswa kelas IX MTs Muhammadiyah Gunung Manik, Kecamatan Tanjungsari, mengaku menyukai metode tersebut. Ia berharap penyajian MBG secara prasmanan dapat terus dilanjutkan di sekolahnya.
“Enak. Saya ingin konsep prasmanan ini dilanjutkan seterusnya,” ujar Faris.
Penerapan model ini diharapkan tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi siswa, tetapi juga menanamkan kebiasaan mengantre, menjaga kebersihan, dan saling membantu.
Dalam pelaksanaannya, pengelola SPPG dan sekolah tetap perlu memastikan keamanan pangan, kebersihan peralatan, serta kecukupan porsi bagi seluruh siswa.
Dengan masuknya SPPG Gunung Manik dalam proyek percontohan nasional, pelaksanaan MBG prasmanan di Sumedang menjadi salah satu model penyajian yang dapat dievaluasi untuk melihat efektivitas pelayanan makanan di lingkungan sekolah.