Rembang, MEMANGGIL.CO - Siapa sangka, garam yang selama ini identik dengan bumbu dapur dan komoditas petani pesisir bisa berubah menjadi karya seni berukuran raksasa? Pemandangan tak biasa itu hadir di tambak garam Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dalam Festival Lukisan Garam pada 16–18 Oktober 2026.

Sebanyak 10 ton garam digunakan untuk menghasilkan lukisan yang membentang di hamparan tambak. Festival ini tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati karya seni dengan cara berbeda, tetapi juga mempertemukan kreativitas seniman, kehidupan petani garam, dan potensi wisata pesisir.

Daya tarik tersebut membuat pengunjung datang dari berbagai daerah, termasuk luar Jawa Tengah. Salah satunya Pramudea, warga Tulungagung, Jawa Timur, yang menempuh perjalanan sekitar enam jam demi menyaksikan langsung lukisan berbahan garam di Dasun.

“Penasaran sih, Mas, kok bisa lukisan dari garam. Ternyata benar-benar bisa dan besar banget. Perjalanan dari rumah sekitar enam jam,” ujarnya.

Festival yang berlangsung selama tiga hari itu dibuka pada Sabtu (17/10/2026) melalui pertunjukan teatrikal. Pembukaan dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Rembang Teguh Gunawarman, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Eva Monalisa.

10 Ton Garam, 25 Orang, dan Proses Pengerjaan 10 Hari

Di balik lukisan berukuran besar tersebut, terdapat proses pengerjaan yang membutuhkan ketelitian dan perhitungan matang. Para seniman harus mengubah hamparan tambak menjadi bidang gambar, mulai dari menyiapkan permukaan lahan hingga menentukan skala agar rancangan dapat diwujudkan dalam ukuran sebenarnya.

Kurator lukisan garam, Eggy Yunaedi, menjelaskan bahwa proses pembuatan karya memerlukan waktu sekitar 10 hari. Tahapannya meliputi pengeringan tambak selama lima hari, pembuatan sketsa satu hari, pengukuran skala satu hari, dan pengerjaan lukisan selama tiga hari.

“Waktu pengeringan tambak lima hari, sketsa satu hari, mengukur jarak skala satu hari, dan khusus melukisnya sendiri tiga hari. Total kira-kira 10 hari, Mas,” jelas Eggy.

Sebanyak 25 orang terlibat dalam pengerjaan karya tersebut. Mereka terdiri atas 10 petani garam dari Dasun, 10 seniman residensi dari berbagai daerah, serta lima pendamping teknis.

Para seniman residensi berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Jepara, Lasem, Rembang, Kediri, Jatiwangi, dan Pati. Kolaborasi ini mempertemukan pengetahuan masyarakat lokal tentang tambak dengan pengalaman artistik para seniman dari beragam latar belakang.

Eggy, seniman asal Kelurahan Kutoharjo, Rembang, yang kini menetap di Bekasi, mengatakan bahwa melukis di atas tambak memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan kanvas biasa, bidang gambar yang luas membuat para perupa harus cermat memperhitungkan jarak dan skala.

Ia mencontohkan proses menggambar biota laut seperti cumi-cumi. Bagian kepala dan ujung ekor dapat berada dalam jarak yang sangat berjauhan sehingga setiap detail harus disesuaikan dengan rancangan agar bentuk akhirnya tetap proporsional.

Suhu Disebut Mencapai 41 Derajat Celsius

Selain persoalan skala, cuaca panas menjadi tantangan lain selama pengerjaan lukisan. Eggy menyebut suhu saat proses melukis bahkan mencapai 41 derajat Celsius, sehingga waktu kerja harus diatur untuk menyesuaikan kondisi para pekerja.

Aktivitas melukis dilakukan pada pagi hari hingga sekitar pukul 09.00 WIB, kemudian dilanjutkan kembali pada sore hari mulai pukul 15.00 WIB hingga menjelang matahari terbenam. Pengaturan waktu tersebut dilakukan agar proses pengerjaan dapat berlangsung di tengah kondisi panas yang cukup berat.

“Kalau lebih dari jam sembilan, sebagian teman sudah tidak kuat, pusing katanya. Kalau petani Dasun sudah biasa. Lalu kita lanjutkan sore hari,” tuturnya.

Mengangkat Kehidupan Petani Garam dan Biota Laut

Lukisan-lukisan yang ditampilkan mengangkat tema biota laut dan aktivitas petani dalam memproduksi garam. Pilihan tema tersebut membuat karya seni ini tidak hanya berfungsi sebagai tontonan visual, tetapi juga membawa cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir.

Di tengah perkembangan zaman, petani garam tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Desa Dasun. Melalui lukisan berukuran raksasa, pekerjaan yang sehari-hari berlangsung di tambak diangkat menjadi ekspresi seni yang dapat dinikmati masyarakat lebih luas.

Festival ini juga menghadirkan cara berbeda dalam menikmati ruang produksi garam. Hamparan tambak yang biasanya digunakan untuk mengolah komoditas kini menjadi ruang ekspresi, kolaborasi, dan pertemuan budaya antara seniman, petani, serta pengunjung.

Keunikan tersebut membuka peluang bagi Desa Dasun untuk semakin dikenal melalui potensi wisata berbasis seni dan kehidupan pesisir. Pengunjung tidak hanya melihat lukisan berukuran besar, tetapi juga memperoleh gambaran tentang proses kerja, kreativitas, dan identitas masyarakat petani garam.

Dari hamparan tambak di Lasem, Festival Lukisan Garam memperlihatkan bahwa potensi wisata dapat tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Garam bukan hanya komoditas, melainkan juga medium untuk menyampaikan cerita tentang manusia, laut, dan budaya pesisir Rembang.