Surabaya, MEMANGGIL.CO - Seorang bocah penyandang disabilitas down syndrome berinisial Z (10), warga Rungkut, Surabaya meninggal dunia dalam kondisi janggal. Keluarga menduga Z menjadi korban bullying yang berujung kematian.
Ayah korban, SAW (53) mengaku tidak melihat langsung kejadian. Saat itu ia tertidur usai minum obat, sementara istrinya berjualan di pasar.
Kepulangannya dari pasar, sang istri menemukan Z sudah tergeletak di teras rumah dengan kondisi wajah membiru, tali sepatu melilit di leher yang terikat besi, dan mulut terdapat bercak sabun colek.
"Istri saya teriak-teriak 'Bi, anake wes biru, anak wes biru,' saya langsung terjaga dari tempat tidur," cerita SAW saat dihubungi, Minggu (18/10/2026).
SAW langsung membawa Z ke rumah sakit, namun nyawa korban tidak tertolong.
"Waktu saya kendori (talinya) anak saya tidak bernyawa mungkin," ujarnya.
Kecurigaan keluarga menguat setelah mengecek CCTV kampung. Rekaman menunjukkan dua bocah berinisial K (10) dan F (10) yang masih tetangga korban, masuk ke rumah secara bergantian.
"Mereka anak kampung sini, yang satu, satu gang dengan saya, satunya lagi gang sebelah," ucap SAW.
Ia menyebut kedua bocah tersebut diduga kerap membully Z. Seminggu sebelum kejadian, korban juga sempat dipasangi tali tampar di pundak.
"Seminggu sebelumnya ada tampar di pundak anak saya, pundaknya itu dikalungkan tampar, saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa ngomong, pengelihatannya juga tidak jelas," katanya.
Dengan peristiwa yang terjadi pada pertengahan bulan September tersebut, keluarga telah melapor ke Polrestabes Surabaya.
SAW menyebut satu anak berinisial K telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara F belum.
"Saya menuntut kedua pelaku kalau bisa dibina sampai dewasa, sampai dia bisa mengerti mana yang hak dan batil, mana yang baik dan jelek agar tidak merugikan orang lain, jangan cuma satu anak," pungkasnya.