Surabaya, MEMANGGIL.CO - Sistem peternakan ayam petelur konvensional yang mengandalkan tenaga manusia coba ditransformasi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjadi lebih modern, efisien, dan terintegrasi. Inovasi itu bernama Futechi Farm.
Futechi Farm adalah sistem kandang ayam petelur cerdas berbasis otomasi Internet of Things (IoT) yang dikembangkan tim mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS.
Tim tersebut terdiri dari Muhammad Samsuddin, Khoerunnisa Utami, Yusran Ardian Hamissy, Risky Firmansyah, Muhammad Tabranie, Osama Ilham Prasetya Putra, dan Achmad Rizky Tri Wibowo.
Ketua Tim, Muhammad Samsuddin mengungkapkan, selama ini banyak peternak ayam petelur masih mengandalkan tenaga manusia untuk aktivitas harian.
Hal itu menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya operasional besar, terutama untuk skala besar.
"Kondisi tersebut tentunya menghabiskan waktu, tenaga kerja, hingga biaya operasional yang sangat besar, khususnya pada peternakan dengan skala yang besar," ujar Samsuddin, Selasa (20/10/2026).
Menjawab persoalan itu, Futechi Farm mengintegrasikan sejumlah proses, mulai dari pemberian pakan otomatis, pemantauan suhu, pengumpulan telur otomatis, hingga deteksi ayam sakit.
"Pemberian pakan dapat dilakukan secara otomatis dan terjadwal yang dapat dikendalikan melalui panel kontrol ataupun ponsel pintar," terangnya.
Tidak hanya itu, sistem ini juga dilengkapi pengaturan jadwal vaksinasi dan sterilisasi sesuai usia ayam untuk mendukung kesehatan dan sanitasi.
Bahkan, tim memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi indikasi penyakit pada populasi tinggi.
"Adanya fitur ini memungkinkan bagi peternak untuk mengobati ayam sebelum jatuh sakit dan produksi telur dapat tetap optimal," paparnya.
Berbeda dengan kandang konvensional berbahan bambu, Futechi Farm menggunakan material weld mesh.
Struktur ini membuat kotoran ayam langsung jatuh ke bawah, sehingga pembersihan lebih praktis.
Kotoran tersebut juga diintegrasikan dengan kolam lele untuk menekan biaya operasional.
"Jadi, kami mendorong transformasi peternakan konvensional menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan demi penguatan ketahanan pangan nasional," jelas mahasiswa S2 Teknik Mesin ITS yang juga seorang Manufacturing Designer itu.
Inovasi yang diriset sejak awal Januari 2026 itu telah mencatatkan penjualan perdana dua unit platform senilai Rp 70 juta ke Kabupaten Bangkalan, dan satu unit senilai Rp 35 juta ke Papua.
Proyek bisnis binaan Inkubator dan Layanan Bisnis Inovativ (ILBI) Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS ini didukung pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan program HETI.
Rektor ITS, Prof Bambang Pramujati, menegaskan ITS terus mendorong riset tidak berhenti pada konsep akademik.
"Selalu saya dorongkan peran mahasiswa dan lulusan ITS untuk memberikan dampak nyata bagi pengembangan SDM dan perekonomian nasional," pungkasnya.
Ke depan, tim berencana mengembangkan Futechi Farm menjadi ekosistem digital, mulai dari sensor penghitung telur otomatis di conveyor, sistem distribusi pakan otomatis dari gudang ke kandang, pakan berbasis mikroalga kolaborasi dengan Departemen Biologi ITS, hingga platform pemasaran yang menghubungkan peternak dengan distributor besar.
"Kami ingin Futechi Farm menjadi sarana yang mempertemukan peternak dengan distributor maupun mitra industri yang lebih luas," harap Samsuddin.