Karanganyar, MEMANGGIL.CO - Ke mana sampah warga Karanganyar akan dibuang jika tempat pembuangan akhir (TPA) semakin penuh? Pertanyaan itu disoroti Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto saat mengingatkan masyarakat agar mulai mengurangi dan mengolah sampah dari rumah tangga.
Menurut Sumanto, penambahan volume sampah setiap tahun menjadi persoalan serius jika tidak diimbangi upaya pengurangan sejak dari sumbernya. Ketergantungan pada TPA dinilai tidak bisa terus dipertahankan, terlebih mencari lokasi baru untuk pembuangan sampah bukan perkara mudah.
Sumanto menyampaikan hal itu saat kegiatan reses untuk menyerap aspirasi masyarakat di Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. Ia mencontohkan kondisi TPA Putri Cempo di Surakarta dan TPA Jatibarang di Semarang yang sama-sama pernah mengalami kebakaran.
Kedua lokasi tersebut menjadi gambaran bahwa pengelolaan sampah membutuhkan perhatian serius. Menurut Sumanto, keberadaan mesin pemilah dan pengolah sampah saja tidak cukup apabila volume sampah yang masuk terus melampaui kemampuan penanganan.
Karanganyar sendiri memiliki TPA Sukosari di Kecamatan Jumantono dengan luas sekitar 5,6 hektare. Jika seluruh sampah terus bergantung pada lokasi tersebut tanpa pengurangan dari rumah tangga, beban TPA dikhawatirkan semakin berat.
"Coba pikirkan, TPA di Jumantono lima tahun atau 10 tahun lagi bakal seperti apa?" kata Sumanto, ditulis Jumat (23/10/2026).
Ia mengingatkan, pembangunan TPA baru juga menghadapi tantangan penerimaan masyarakat di sekitar lokasi. Pemerintah tidak bisa begitu saja menentukan lahan tanpa mempertimbangkan persetujuan dan dampaknya bagi warga.
"TPA mau ditambah lagi, siapa yang mau?" ujarnya.
Sumanto meminta masyarakat tidak lagi memandang sampah sebagai limbah yang cukup dibuang begitu saja. Menurutnya, kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah menjadi salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk menekan volume sampah ke TPA.
Dorong Sampah Jadi Pupuk
Sumanto mendorong warga memisahkan sampah organik dan anorganik. Sisa sayuran, kulit buah, serta daun dapat dikumpulkan untuk diolah, sedangkan plastik, kaca, dan logam dipisahkan agar bisa dimanfaatkan kembali atau disalurkan melalui sistem daur ulang.
Salah satu cara yang ia dorong adalah mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair. Prosesnya dapat dimulai menggunakan peralatan sederhana, termasuk ember, sehingga memungkinkan diterapkan di lingkungan rumah tangga.
Dengan cara tersebut, sampah yang sebelumnya langsung dibuang dapat memiliki nilai guna. Pupuk hasil pengolahan bisa dimanfaatkan untuk membantu menyuburkan tanaman, sementara sampah yang masih dapat didaur ulang tidak harus berakhir di TPA.
Sumanto menilai perubahan kebiasaan masyarakat menjadi kunci penting dalam pengurangan sampah. Jika dilakukan secara konsisten oleh banyak rumah tangga, jumlah sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir berpotensi berkurang.
Ia juga menyebut persoalan sampah sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata-mata urusan pemerintah daerah.
"Persoalan sampah ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga harus ikut bergerak," katanya.
Sumanto menambahkan, perhatian terhadap persoalan sampah sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang ia ikuti sebagai kader partai.
"Ini memang persoalan yang harus kita selesaikan bersama," ujarnya.
Ia berharap gerakan pengurangan sampah tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, langkah sederhana seperti memilah sampah dan mengolah sampah organik dari rumah dapat menjadi bagian dari solusi menghadapi keterbatasan kapasitas TPA.