Karanganyar, MEMANGGIL.CO - Persoalan sampah tak cukup diselesaikan dengan mengangkut dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mengajak warga mulai mengurangi timbunan sampah dari rumah dengan memilah sampah organik dan mengolahnya menjadi produk bermanfaat, termasuk pupuk organik cair.
Ajakan tersebut disampaikan Sumanto saat menggelar reses di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Ia menilai keterbatasan kapasitas TPA menjadi alasan masyarakat perlu mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sampah.
Menurut Sumanto, penambahan lokasi pembuangan bukan perkara mudah karena membutuhkan lahan dan persetujuan warga sekitar. Karena itu, pengurangan sampah harus dimulai sebelum sampah diangkut keluar dari lingkungan rumah tangga.
“TPA sudah tidak muat. TPA mau ditambah lagi, siapa yang mau? Ketika mau membangun TPA baru, kita harus meminta izin warga, dan belum tentu masyarakat bersedia,” katanya.
Sumanto juga menyebut sekitar 60–70 persen sampah di Kabupaten Karanganyar merupakan sampah rumah tangga. Ia mendorong masyarakat mengubah kebiasaan membuang seluruh sampah menjadi memilah dan memanfaatkan kembali bahan yang masih bisa diolah.
“Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memerintahkan agar kita mengurusi sampah. Sebagai kader partai, perintah itu saya ikuti karena memang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Sumanto.
Olah Sampah Organik dengan Peralatan Sederhana
Sumanto mencontohkan, sisa sayuran, buah-buahan, dan daun dapat dipisahkan dari sampah anorganik untuk kemudian diolah. Salah satu pilihan yang diperkenalkan adalah metode berbasis ember untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk cair.
Ia mengatakan telah menerapkan pengolahan sampah di rumah dan berharap langkah serupa bisa diikuti masyarakat. Menurutnya, upaya sederhana di tingkat keluarga dapat menjadi bagian dari solusi persoalan sampah jika dilakukan secara konsisten dan meluas.
“Coba kita pikirkan, sepuluh tahun lagi TPA Jumantono akan seperti apa kalau persoalan sampah ini tidak kita selesaikan dari sekarang. Saya sendiri juga membuat pengolahan sampah di rumah,” ungkapnya.
Dalam proses pengolahan, sampah organik perlu dipisahkan dari plastik, logam, kaca, dan bahan lain yang tidak sesuai. Bahan organik kemudian diproses menggunakan metode yang tepat. Cairan hasil pengolahan tidak boleh langsung dianggap sebagai pupuk yang aman; penggunaannya perlu memperhatikan proses pembuatan dan diuji terlebih dahulu pada sebagian kecil tanaman.
Sumanto berharap gerakan pengelolaan sampah dimulai dari satu rumah, lalu berkembang ke tingkat rukun tetangga (RT) dan lingkungan yang lebih luas. Ia menilai keterlibatan warga menjadi kunci untuk mengurangi sampah yang berakhir di TPA.
“Mulai dari rumah, bergerak bersama. Kalau sampah rumah tangga bisa kita selesaikan dari sumbernya, lingkungan akan lebih bersih dan manfaatnya bisa kita rasakan bersama,” pungkasnya.