Sidoarjo, MEMANGGIL.CO - Ketegangan berkepanjangan di pucuk pimpinan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo antara Bupati Subandi dan Wakil Bupati Mimik Idayana dinilai tidak lagi sebatas persoalan politik internal.
Konflik yang tak kunjung mereda ini mulai memunculkan dampak turunan yang nyata, salah satunya terhadap sektor olahraga daerah yang kian kehilangan arah dan perhatian.
Klub sepak bola Persida Sidoarjo menjadi potret paling konkret dari situasi tersebut. Tim kebanggaan masyarakat yang dikenal dengan julukan Laskar Jenggolo itu hingga kini dinilai belum memperoleh dukungan optimal dari pemerintah daerah, meski penguatan Persida sempat menjadi bagian dari janji politik saat masa kampanye Pilkada.
Janji untuk memberikan perhatian serius terhadap Persida belum terealisasi secara nyata. Akibatnya, klub harus bertahan dalam berbagai keterbatasan, mulai dari pembinaan pemain, tata kelola manajemen, hingga persoalan finansial, di tengah persaingan kompetisi yang semakin ketat dan profesional.
Pengamat olahraga dari Lembaga Studi Olahraga dan Kebijakan Publik Nasional (LSOKPN), Dr. Reza Hardiansyah, menilai kondisi politik daerah yang tidak kondusif turut berkontribusi terhadap terpinggirkannya sektor olahraga dari prioritas pembangunan.
“Ketika hubungan di internal eksekutif tidak solid, fokus kebijakan menjadi terpecah. Olahraga, termasuk Persida, akhirnya tidak mendapat perhatian yang utuh dan berkelanjutan,” ujar Reza, Minggu (25/1/2026).
Menurutnya, situasi tersebut membuat janji penguatan klub sepak bola daerah hanya berhenti di tataran wacana. Padahal, klub seperti Persida membutuhkan dukungan yang konsisten dan berjangka panjang, bukan sekadar simbolik.
Dampak lemahnya dukungan itu mulai terlihat pada performa Persida di ajang Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026.
Setelah sempat tampil meyakinkan dan menembus babak 16 besar pada awal Januari, langkah Persida tersendat saat memasuki fase krusial kompetisi.
Pada laga penentuan Grup KK, Persida harus mengakui keunggulan PS Mojokerto Putra dengan skor tipis 1–2. Hasil tersebut memastikan PS Mojokerto Putra melaju ke babak delapan besar, sementara Persida berada dalam posisi sulit dan terancam tersingkir lebih awal.
Kekalahan ini menjadi pukulan bagi publik Sidoarjo yang sempat menaruh harapan besar terhadap kebangkitan Persida. Sebagai klub dengan sejarah panjang di kancah sepak bola Jawa Timur, ekspektasi masyarakat sejatinya cukup tinggi, terlebih setelah muncul harapan adanya dukungan serius dari pemerintah daerah pasca-Pilkada.
Namun, hasil minor di laga-laga penting kembali menegaskan rapuhnya fondasi non-teknis yang menopang perjalanan Persida di musim ini.
Reza menegaskan, tanpa dukungan struktural yang jelas dan berkesinambungan dari pemerintah daerah, Persida akan kesulitan menjaga konsistensi prestasi, apalagi membangun sistem pembinaan pemain usia muda.
“Persida tidak bisa terus bertahan hanya dengan modal semangat dan sejarah. Klub butuh kebijakan yang berpihak, mulai dari pendanaan, fasilitas latihan, hingga pembinaan jangka panjang. Ketika konflik politik dibiarkan, efektivitas dukungan itu pasti menurun,” tegasnya.
Pengamat menilai, apabila konflik politik di internal pemerintahan daerah tidak segera diselesaikan, sektor olahraga berpotensi terus menjadi korban.
Padahal, prestasi olahraga memiliki peran strategis dalam membangun identitas daerah, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan kebanggaan masyarakat Sidoarjo.
Editor : Abdul Rohman