Jakarta, MEMANGGIL.CO - Perayaan Tahun Baru Imlek yang waktunya berdekatan dengan bulan Ramadan diperkirakan bisa menjadi dorongan positif bagi konsumsi masyarakat. Situasi ini dinilai sebagai peluang emas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di tengah kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih serta ketidakpastian ekonomi global.
Lembaga riset ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai, ketika dua momen besar keagamaan dan budaya hadir dalam waktu hampir bersamaan, pola belanja masyarakat biasanya meningkat dalam beberapa gelombang. Kondisi ini membuka ruang bagi UMKM untuk menghadirkan produk yang lebih variatif dan menyasar segmen pasar tertentu.
Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara, menekankan pentingnya membaca arah tren sejak dini. Pelaku usaha, menurutnya, perlu melakukan riset sederhana terkait minat konsumen, misalnya memprediksi tren busana menjelang Idul Fitri 2026, agar produksi dan stok lebih tepat sasaran.(17/02/2026)
Saat Imlek, permintaan biasanya meningkat pada produk-produk bernuansa perayaan, seperti paket camilan tematik, hampers, aksesori, hingga aneka kue dan minuman khas. Buah segar seperti jeruk mandarin juga cenderung mengalami lonjakan permintaan karena identik dengan simbol keberuntungan.
Sementara pada Ramadan, pola konsumsi bergeser ke kebutuhan khas bulan puasa. Produk seperti perlengkapan ibadah, busana muslim, makanan siap saji, hingga layanan transportasi dan penginapan menjelang Lebaran berpotensi mengalami kenaikan penjualan.
Menjelang Idul Fitri, peluang usaha juga meluas ke sektor pendukung, seperti jasa penitipan hewan bagi masyarakat yang mudik, serta hampers Lebaran yang menjadi tradisi saling berbagi.
Meski demikian, CELIOS mengingatkan agar UMKM tidak sekadar membidik pasar luas tanpa strategi. Produk yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan transportasi dinilai lebih stabil permintaannya selama musim libur panjang.
Di tengah tantangan daya beli dan situasi global yang belum sepenuhnya stabil, kolaborasi antar pelaku usaha dinilai penting. Misalnya melalui penyelenggaraan bazar Ramadan di area strategis seperti sekitar masjid atau pusat keramaian. Pemanfaatan media sosial dan platform digital juga perlu dimaksimalkan, disertai perencanaan stok bahan baku yang matang agar tidak terjadi kelebihan produksi.
Editor : B. Wibowo