Ramadan 2026, Tempat Buka Puasa di Surabaya Diserbu Warga

Reporter : B. Wibowo
Nasi Kebuli (Foto: Istimewa)

Surabaya, MEMANGGIL.CO – Ramadan 2026 membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha kuliner di Surabaya. Sepekan menjelang pertengahan bulan puasa, sejumlah kawasan kuliner dan pusat perbelanjaan mulai dipadati warga yang berburu tempat buka puasa bersama (bukber).

Lonjakan pengunjung terjadi hampir merata, mulai dari sentra takjil tradisional hingga restoran modern. Fenomena ini bukan sekadar tren musiman, tetapi telah menjadi ritual tahunan yang ikut menggerakkan ekonomi kota.

Ampel Jadi Episentrum Takjil Ramadan

Kawasan Ampel kembali menjadi magnet warga. Menjelang magrib, lorong-lorong dipenuhi pembeli yang memburu kurma, roti maryam, es samin, hingga nasi kebuli.

Tak hanya warga Surabaya, pengunjung dari Sidoarjo dan Gresik juga terlihat memadati kawasan ini. Pedagang mengaku omzet meningkat signifikan dibanding hari biasa.

SWK dan Warung Legendaris Diserbu Bukber Hemat

Sentra Wisata Kuliner (SWK) di berbagai kecamatan juga mencatat lonjakan pengunjung. Menu khas Surabaya seperti lontong balap, tahu tek, rawon, hingga penyetan menjadi pilihan favorit untuk buka puasa bersama.

Harga yang ramah di kantong menjadi alasan utama. Bukber tak lagi identik dengan restoran mahal, tetapi kembali ke kuliner rakyat yang penuh nostalgia.

Mal dan Hotel Tawarkan Paket Premium

Sementara itu, pusat perbelanjaan seperti Tunjungan Plaza juga tak kalah ramai. Reservasi restoran bahkan sudah penuh sejak awal Ramadan, terutama untuk akhir pekan.

Hotel-hotel berbintang menawarkan paket iftar all you can eat dengan tema Timur Tengah dan Nusantara. Strategi diskon early bird dan promo grup menjadi daya tarik untuk perusahaan yang menggelar bukber karyawan.

Perputaran Uang Meningkat, Tantangan Parkir dan Kemacetan

Lonjakan aktivitas berbuka puasa turut berdampak pada kepadatan lalu lintas di sejumlah titik kuliner. Kawasan Ampel, pusat kota, hingga area mal mengalami antrean kendaraan menjelang waktu magrib.

Namun di balik itu, Ramadan menjadi momentum penting bagi pelaku UMKM untuk menutup target omzet tahunan. Banyak pedagang mengandalkan bulan puasa sebagai periode panen.

Pengamat ekonomi menilai pola konsumsi masyarakat saat Ramadan di Surabaya menunjukkan daya beli masih relatif stabil, terutama pada sektor makanan dan minuman.

Ramadan pun tak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga penggerak ekonomi kerakyatan di Kota Pahlawan.

 

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru