Surabaya, MEMANGGIL.CO - Langkah Mbah Marsiyah Salim memang tak lagi secepat dulu. Namun di balik tubuh renta perempuan asal Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu, tersimpan keteguhan yang tak lekang oleh usia.
Di usianya yang telah mencapai 105 tahun, Mbah Marsiyah akhirnya mewujudkan impian terbesar dalam hidupnya yakni menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Perempuan lanjut usia itu tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya bersama rombongan kloter 112 Kabupaten Kediri, Kamis (21/5/2026).
Ia datang didampingi putri keduanya, Muidah Tauhid (64), yang akan setia menemani perjalanan ibadah sang ibu hingga ke Mekkah.
Di Gedung Muzdalifah Asrama Haji Sukolilo, Mbah Marsiyah langsung mendapat prioritas pelayanan. Petugas memeriksa kesehatannya lebih dulu, memasangkan gelang haji, menyerahkan living cost hingga kartu nusuk.
Semua proses dipercepat agar perempuan sepuh itu bisa segera beristirahat di kamar bersama putrinya.
Namun perjalanan menuju Tanah Suci bagi Mbah Marsiyah bukanlah kisah yang instan. Di balik keberangkatannya, tersimpan perjuangan panjang selama puluhan tahun.
Dahulu, ia membantu ekonomi keluarga dengan berjualan jenang di pasar. Dari hasil jualan sederhana itulah ia diam-diam menabung uang receh sedikit demi sedikit.
Bahkan, nominal Rp500 pada masa itu tetap ia sisihkan demi satu cita-cita: berangkat ke Mekah.
“Dulu saya jualan jenang, lalu menabung sedikit demi sedikit. Saya diam saja tidak cerita ke tetangga, simpan terus sampai terkumpul cukup untuk berangkat ke Mekah,” tutur Mbah Marsiyah pelan.
Kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Pada tahun 2021, saat usianya menginjak 99 tahun, ia resmi mendaftar haji. Lima tahun menunggu antrean, namanya akhirnya dipanggil untuk berangkat tahun ini.
Di usianya yang melewati satu abad, kesehatan Mbah Marsiyah justru masih tergolong prima. Ia rutin berjalan kaki setiap pagi dan menjaga pola makan sederhana.
“Makanan yang tidak pedas dan tidak terlalu asin saja,” ujarnya singkat sambil tersenyum.
Ia bahkan mengaku masih mampu menjalankan puasa Ramadan penuh tanpa bolong sedikit pun.
“Alhamdulillah kuat puasa sebulan penuh gak ada yang bolong,” katanya bangga.
Bagi Mbah Marsiyah, doa yang dibawa ke Tanah Suci juga sederhana. Ia hanya ingin diberikan kesehatan dan keberkahan untuk keluarga besarnya.
“Saya senang sekali. Doa semoga selalu sehat dan waras. Saya juga mendoakan anak serta cucu semuanya agar sehat dan berkah rezekinya,” ucapnya lirih.
Putrinya, Muidah Tauhid, mengenang ibunya sebagai sosok perempuan pekerja keras yang nyaris tak pernah mengeluh. Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu, sementara sang ibu berjuang membantu ekonomi keluarga dengan berjualan di pasar sambil membesarkan lima anak.
“Nabungnya dikit-dikit. Zaman dulu saja sudah senang kalau dapat Rp500. Beliau diam saja menabung demi cita-cita mulianya. Alhamdulillah, setelah lima tahun mendaftar, akhirnya bisa berangkat juga,” kenang Muidah.
Muidah sendiri pernah menjalani ibadah umrah pada 2023 lalu. Kini ia bersyukur masih diberi kesempatan mendampingi sang ibu menuju Tanah Suci.
“Awalnya saya sempat mengira kondisi ibu sudah tidak kuat, tapi ternyata Alhamdulillah beliau masih sangat sehat dan bugar,” ungkapnya.
Selama berada di Tanah Suci nanti, Mbah Marsiyah akan dibantu menggunakan kursi roda dan didampingi putrinya saat menjalani tawaf.
Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, memastikan Mbah Marsiyah akan mendapatkan pelayanan khusus baik di embarkasi maupun selama di Arab Saudi.
“Karena merupakan jemaah tertua, nanti di Mekkah beliau juga akan mendapat pelayanan khusus. Tidak perlu menunggu antrean, seluruh proses ibadah akan diutamakan demi kenyamanan dan keamanannya,” jelas Anam.
Pihaknya bahkan menyebut Mbah Marsiyah kemungkinan menjadi jemaah haji tertua di Indonesia tahun ini.
“Setahu kami, beliau adalah jemaah tertua se-Jawa Timur. Jika ternyata terkonfirmasi sebagai yang tertua se-Indonesia, tentu ini sesuatu yang sangat luar biasa dan menjadi rekor tersendiri,” pungkasnya.
Editor : Abdul Rohman