Blora, MEMANGGIL.CO - Serangan hama tikus yang kerap merusak tanaman pertanian membuat sejumlah petani di Kabupaten Blora terus mencari cara agar sawah mereka tetap aman. Di tengah mahalnya biaya pengendalian hama modern, sebagian petani masih mempertahankan cara tradisional menggunakan alat sederhana bernama “bleng-blengan”.

Alat ini dikenal menghasilkan suara ledakan keras yang dipercaya mampu mengusir tikus dari area persawahan, terutama pada malam hari saat hama mulai menyerang tanaman petani.

Salah satu warga yang masih menggunakan alat tersebut adalah Rofiq (39), warga Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SDN sekaligus petani.

Rofiq menunjukkan alat rakitan yang terbuat dari bahan sederhana. Ia menyebut alat itu dibuat sendiri dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang mudah ditemukan.

“Bleng blengan rakitan dewe,” kata Rofiq.

Menurutnya, alat tradisional tersebut digunakan untuk membantu mengurangi serangan tikus yang sering merusak tanaman pertanian milik warga.

“Gurak tikus,” jawabnya singkat saat ditanya fungsi alat tersebut.

Bleng-blengan bekerja dengan menghasilkan suara keras menyerupai ledakan kecil. Suara tersebut muncul dari tekanan api dan uap bahan bakar di dalam tabung sederhana yang dirakit secara manual.

Rofiq menjelaskan, alat itu dibuat menggunakan kaleng bekas susu yang dipadukan dengan komponen pemantik dari kompor gas.

“Kaleng susu karo platina kompor gas, bahan bakare pirtus,” jelasnya.

Dalam bahasa Indonesia, alat itu dibuat dari kaleng susu dan platina kompor gas dengan bahan bakar spiritus.

Sate Pak Rizki

Di sejumlah wilayah pertanian Blora, penggunaan bleng-blengan sebenarnya bukan hal baru. Alat tradisional tersebut sudah lama digunakan petani sebagai cara murah untuk menghalau hama, terutama tikus dan burung.

Biasanya, alat dipasang di pinggir sawah dan dinyalakan saat sore hingga malam hari. Suara dentuman yang muncul secara berkala dianggap cukup efektif membuat hama menjauh dari area tanaman.

Meski sederhana, cara tradisional ini masih dipertahankan karena dinilai lebih hemat biaya dibanding penggunaan racun atau alat pengusir modern yang harganya relatif mahal.

Selain itu, sebagian petani juga mengaku lebih nyaman menggunakan metode tradisional karena dianggap tidak merusak lingkungan dan tidak mencemari area pertanian.

Namun demikian, penggunaan bleng-blengan tetap harus dilakukan dengan hati-hati mengingat alat tersebut menggunakan api dan bahan bakar yang mudah terbakar.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kreativitas petani di Blora terus bertahan di tengah berbagai tantangan pertanian, termasuk serangan hama yang kerap mengancam hasil panen.

Di balik sederhananya alat rakitan tersebut, tersimpan upaya petani menjaga tanaman tetap aman agar hasil panen tidak rusak diserang tikus.