Kemenangan Kyai Lodra Masih Diperdebatkan, Kritik Muncul di Kolom Komentar

Reporter : Redaksi
unggahan ucapan selamat dari Gubernur Jawa Timur (Layar Tangkap)

Ponorogo, MEMANGGIL.CO – Polemik seputar kemenangan Tim Kesenian Reog Kyai Lodra Jawa Timur pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI belum mereda. Setelah perdebatan mengenai keterlibatan kelompok yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam ajang kompetisi tersebut, unggahan ucapan selamat dari Gubernur Jawa Timur memunculkan gelombang komentar kritis di media sosial.

Dalam unggahan yang menampilkan ucapan selamat atas keberhasilan Kyai Lodra meraih Juara Umum, Gubernur Jawa Timur menyebut prestasi tersebut sebagai bukti bahwa kesenian tradisional Jawa Timur mampu tampil kompetitif di tingkat nasional. Namun, sejumlah pegiat seni dan masyarakat menanggapi unggahan tersebut dengan nada satir.

Salah satu komentar yang menarik perhatian datang dari akun Sukatno Ssn. Ia menuliskan kalimat bernuansa kritik yang menyiratkan adanya perubahan peran pihak yang semestinya menjadi pembina menjadi pihak yang ikut bersaing dalam kompetisi. "Burung dari sangkar mas itu berubah menjadi predator ganas, paruhnya tajam, cengkeraman cakarnya sangat mematikan," tulisnya dalam kolom komentar unggahan tersebut.

Komentar tersebut menambah panjang daftar kritik yang sebelumnya telah muncul terkait posisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur dalam FNRP. Sejumlah pegiat budaya menilai pemerintah daerah seharusnya berperan sebagai fasilitator dan pembina kesenian, bukan menjadi bagian dari peserta yang berkompetisi dengan kelompok-kelompok seni daerah lainnya.

Perdebatan ini semakin ramai setelah kemenangan Kyai Lodra memicu diskusi luas di kalangan seniman dan pemerhati budaya. Sebagian pihak menilai prestasi tersebut merupakan hasil pembinaan yang berhasil, sementara pihak lain mempertanyakan etika dan batas peran pemerintah dalam sebuah kompetisi seni budaya.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perbincangan di media sosial dan komunitas seni Reog. Perbedaan pandangan antara pihak yang mendukung dan yang mengkritik menunjukkan bahwa persoalan ini tidak hanya menyangkut hasil lomba, tetapi juga menyentuh aspek tata kelola, pembinaan, dan keadilan dalam penyelenggaraan festival budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru