Kinerja Kredit Jatim Tumbuh Positif, OJK Soroti Rasio NPL UMKM yang Sentuh 10,4 Persen

Reporter : Adji
OJK saat paparkan kinerja Jatim. (Adji/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur mencatat kinerja industri jasa keuangan di wilayah ini menunjukkan pertumbuhan yang kuat per April.  

Meski demikian, regulator terus mendorong peningkatan porsi serta kualitas penyaluran kredit untuk sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat menopang perekonomian daerah secara lebih sehat. 

Kepala Direktorat Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Jawa Timur, Horas V.M. Torihoran, mengungkapkan, pertumbuhan kredit di Jawa Timur masih berada di atas rata-rata nasional dengan risiko yang relatif terkendali. 

"Pertumbuhan kredit kita per April di Jawa Timur masih sangat kuat mencapai 32,9 persen, dengan risiko kredit yang tetap terjajaki dan terkendali di mana rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 3,72 persen," papar Horas dalam kegiatan Media Breifing Triwulan II 2026 di Kantor OJK Jawa Timur, Senin, 22 Juni 2026. 

Berdasarkan sektor ekonominya, ekonomi kreatif dan penyaluran kredit di Jawa Timur saat ini masih didominasi oleh sektor rumah tangga sebesar 30,5 persen.  

Diikuti pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 24,9 persen, serta industri pengolahan yang menyumbang 19,30 persen. 

Jika ditinjau dari jenis penggunaan, mayoritas kredit di Jawa Timur dialokasikan untuk modal kerja sebesar 50,11 persen, disusul oleh sektor konsumsi sebesar 31,67 persen, dan investasi sebesar 18,22 persen.  

"Tingginya angka konsumsi ini dinilai konsisten dengan besarnya serapan kredit di sektor rumah tangga, yang umumnya digunakan untuk kegiatan produktif skala mikro," sambung Horas. 

Kendati kinerja makro menunjukkan angka positif, OJK menyoroti porsi penyaluran kredit untuk UMKM yang saat ini masih berada di angka 36,77 persen, sementara 63,23 persen sisanya masih dikuasai oleh non-UMKM atau korporasi.  

Horas juga mengungkapkan, peningkatan porsi kredit UMKM menjadi tantangan sekaligus peluang besar guna memperkuat struktur ekonomi Jawa Timur. 

Namun, langkah ekspansi tersebut dihadapkan pada kendala kualitas kredit. OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau NPL khusus untuk sektor UMKM di Jawa Timur berada di angka yang cukup tinggi, yakni mencapai 10,4 persen. 

"Ini menjadi tantangan kita bersama bagaimana membangun pertumbuhan kredit UMKM yang sehat, yang kesimpulannya adalah NPL-nya rendah. Tentu ini membutuhkan proses akurasi, persiapan yang matang, serta edukasi keuangan yang masif kepada pelaku usaha," terang Horas. 

Secara nominal, penyaluran kredit secara nasional telah menyentuh angka Rp.447 triliun, di mana Pulau Jawa berkontribusi sebesar Rp.215,43 triliun. Dari angka tersebut, Jawa Timur memberikan andil yang sangat signifikan dengan realisasi mencapai Rp.67,76 triliun. 

"OJK Jatim berharap, melalui penguatan edukasi dan proses kurasi pembiayaan yang lebih baik, penyaluran kredit ke depan dapat lebih diarahkan pada sektor-sektor strategis yang menjadi motor penggerak utama Jawa Timur, seperti industri pengolahan serta perdagangan eceran," pungkas Horas.

Editor : Abdul Rohman

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru