Genjot Pasar Global di Tengah Ketidakpastian, BI Jatim Gelar Java Coffee and Flavors Fest 2026

Reporter : Adji
Deputi Kepala (KPwBI ) Provinsi Jatim, Ridzky Prihadi Tjahyanto, (kiri) Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi (tengah) saat berkunjung ke Booth JCFF ( Adji /Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO — Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur kembali membuka gelaran tahunan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Alun-alun Kota Surabaya.  

Kegiatan  tersebut sebagai upaya memperkuat ketahanan ekonomi domestik dan mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan unggulan menembus pasar global di tengah fluktuasi geopolitik serta ketidakpastian ekonomi dunia. 

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur, Ridzky Prihadi Tjahyanto, mengatakan, performa ekonomi Jawa Timur pada Semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan yang sangat prospektif sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year).  

Menurutnya, angka ini mencatatkan kenaikan dibanding capaian periode yang sama pada tahun lalu yang berada di angka 5,39 persen. 

"Pertumbuhan ekonomi kita sangat prospektif. Salah satu pendorong utama yang terus kita dukung bersama adalah komoditas pangan unggulan di Jawa Timur, khususnya kopi. Komoditas ini merupakan salah satu andalan strategis, tidak hanya di level regional Jawa, tetapi juga secara nasional," terang  Ridzky dalam sambutannya pada pembukaan JCFF, Jumat, 17 Juli 2026. 

Ia mengungkapkan, Indonesia saat ini kokoh menempati posisi keempat sebagai produsen kopi terbesar di dunia, tepat di bawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.  

Di tingkat nasional, wilayah pulau Jawa menjadi salah satu kontributor utama, di mana produksi kopi Jawa Timur tercatat sebagai yang tertinggi, mendominasi hampir setengah dari total output gabungan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. 

"Potensi komoditas kopi ini luar biasa besar. Bank Indonesia berkomitmen penuh mendorong UMK kopi, teh, cokelat, hingga produk rempah agar mampu berdaya saing global melalui sinergi rantai pasok dan digitalisasi," ungkap Ridzky. 

Ridzky menambahkan, Festival tahun ini menargetkan lonjakan kunjungan yang masif dengan memanfaatkan kompleks Balai Pemuda dan Alun-alun Kota Surabaya sebagai pusat kegiatan selama tiga hari ke depan hingga hari Minggu.  

Fasilitas tempat strategis ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat. Sebagai catatan, pada gelaran tahun 2025 lalu saat diadakan di kawasan Kota Lama, acara sejenis sukses menyedot hingga 130.000 pengunjung yang bertransaksi di 107 stan produk kopi dan olahan pangan. 

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang hadir dan meninjau langsung lokasi acara, memberikan apresiasi tinggi atas pelaksanaan festival di pusat kota. Ia optimis perputaran ekonomi dan antusiasme pengunjung tahun ini akan jauh lebih luar biasa. 

"Semangatnya sangat luar biasa di Balai Pemuda ini. Acara seperti ini sangat krusial karena tidak hanya memamerkan produk, tetapi langsung mempertemukan antara investor, pelaku UMKM, akademisi, hingga komunitas. Kolaborasi matang ini menjadi kunci agar kopi Nusantara kita tidak kalah saing dan mampu menguasai pasar internasional dengan karakteristik uniknya," ungkap  Eri. 

Selain perluasan akses pasar dan penjajakan investasi langsung (business matching), inovasi utama dalam festival tahun ini adalah implementasi digitalisasi perdagangan secara menyeluruh.  

Bank Indonesia mewajibkan seluruh transaksi di dalam area festival menggunakan sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), guna mempercepat adopsi ekosistem keuangan digital bagi pelaku usaha mikro. 

 
 

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru