Surabaya, MEMANGGIL.CO — Limbah daun nanas dari kawasan lereng Gunung Kelud kini berhasil disulap menjadi material tekstil bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi pemanfaatan limbah pertanian tersebut dikembangkan oleh akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Inty Nahari, melalui karya tekstil serat alam bernama Barik.
Karya berbasis kelestarian lingkungan ini sukses menarik perhatian publik global setelah terpilih dipamerkan dalam pameran seni internasional "Becoming: Prakriti Pustaka Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali.
Barik menjadi salah satu dari 79 karya terpilih milik seniman dan praktisi dari delapan negara.
Dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Unesa tersebut menjelaskan, riset yang dimulainya sejak 2023 ini mengolah serat daun nanas madu Kelud menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dengan teknik tenun kluwung. Eksplorasi visualnya terinspirasi dari relief Candi Palah Penataran.
Berbeda dari industri tekstil pabrikan yang menuntut keseragaman bahan, Barik justru menonjolkan karakter asli serat daun nanas yang beragam.
"Ketidakteraturan tekstur, warna, dan ketebalan serat bukan kekurangan, melainkan rekaman alami lingkungan tumbuh mulai dari kondisi tanah, intensitas matahari, hingga curah hujan," kata Inty dalam keterangan resminya, Sabtu, 25 Juli 2026.
Pertemuan antara pola tenun terstruktur dan karakter alami serat menghasilkan kain dengan tekstur unik yang sulit ditiru secara identik.
"Riset ini membuktikan bahwa material lokal dari daerah dapat menjawab isu-isu global, seperti pengurangan limbah pertanian, manufaktur berkelanjutan, hingga pelestarian pengetahuan tradisional," ujar Inty.
Ke depan, serat daun nanas Kelud berpotensi besar untuk dihilirisasi menjadi beragam produk industri kreatif, mulai dari busana, aksesori, elemen dekorasi interior, hingga kriya.
"Pengembangan ini diharapkan mampu membakar ruang kolaborasi lintas sektor yang melibatkan petani nanas, perajin tenun, desainer, hingga pemerintah daerah guna meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat lokal," pungkas Inty.
Editor : Abdul Rohman