Ribuan Nahdliyin Gelar Istighosah di Tambakberas Jombang, Muktamar ke-35 NU Didoakan Berjalan Guyub

Reporter : Redaksi
KH Miftachul Akhyar bersama jajaran PBNU mengikuti istighosah sebagai ikhtiar batin menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Kamis (20/8/2026) malam. (Foto: Dok. Media Center)

Jombang, MEMANGGIL.CO - Ribuan warga Nahdliyin memadati Gedung Serbaguna Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (20/8/2026) malam.

Mereka berkumpul dalam majelis istighosah dan shalawat bersama sebagai ikhtiar batin menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di kawasan pesantren tersebut.

Baca juga: Gus Rozin Bicara Arah Baru NU: Poros Tengah, Kemandirian hingga Penguatan Jamaah

Jamaah mulai berdatangan sejak sore. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), panitia lokal Muktamar, santri, anggota Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), hingga masyarakat umum.

Gedung tempat istighosah berlangsung nantinya juga menjadi salah satu lokasi persidangan pleno Muktamar ke-35 NU. Karena itu, doa bersama tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian persiapan menjelang forum permusyawaratan besar NU.

Sejumlah tokoh NU dan keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas turut hadir. Di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, anggota Steering Committee Muktamar Prof. Muh. Nuh, Bendahara Umum PBNU Gus Gudfan, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, serta KH Hasib Wahab Chasbullah.

Dalam kesempatan tersebut, KH Miftachul Akhyar mengajak warga Nahdliyin memperkuat ikhtiar spiritual. Menurutnya, persiapan sebuah agenda besar tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan teknis, tetapi juga membutuhkan doa dan permohonan pertolongan kepada Allah SWT.

Ia menggambarkan kondisi zaman saat ini sebagai masa yang penuh ketidakmenentuan. Dalam situasi tersebut, masyarakat dituntut memiliki ketajaman hati agar mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

“Orang benar dibohongkan, orang bohong dibenarkan, pahlawan dianggap pengkhianat, pengkhianat dianggap pahlawan,” kata KH Miftachul Akhyar.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya memperbanyak istighfar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Istighosah, kata dia, menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon pertolongan sekaligus perlindungan dalam menjalankan berbagai urusan, termasuk menyambut Muktamar NU.

KH Miftachul Akhyar juga berharap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung dalam suasana yang guyub dan penuh kegembiraan.

“Semoga semuanya berjalan guyub dan penuh keriangan. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Semua selesai di Tambakberas ini,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam majelis istighosah. Muktamar diharapkan tidak menjadi ruang yang memperlebar perbedaan, tetapi justru menjadi momentum memperkuat persaudaraan di antara warga Nahdliyin.

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga menempatkan istighosah sebagai bagian penting dari persiapan Muktamar.

Menurutnya, persiapan teknis yang dilakukan panitia perlu diiringi dengan doa agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman dan lancar.

“Majelis doa ini menjadi landasan batin agar Muktamar ke-35 NU berjalan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi bangsa,” ujar Gus Ipul.

Gus Ipul menilai doa bersama menjadi bagian dari ikhtiar untuk menciptakan suasana yang kondusif menjelang pelaksanaan Muktamar.

Apalagi Muktamar ke-35 NU akan mempertemukan para ulama, pengurus, peserta, serta perwakilan Nahdliyin dari berbagai daerah.

Pertemuan dalam skala besar tersebut tentu membutuhkan kesiapan banyak pihak, baik dari sisi penyelenggaraan maupun suasana sosial di sekitar lokasi.

Karena itu, doa dan istighosah menjadi salah satu cara untuk mengiringi persiapan teknis yang terus dilakukan panitia.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Jombang dipilih menjadi tuan rumah perhelatan besar tersebut dengan Tambakberas sebagai lokasi utama pelaksanaan.

Bagi warga Nahdliyin, pemilihan Tambakberas memiliki makna tersendiri. Pesantren tersebut merupakan salah satu pusat pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Kiai Sepuh Serukan Muktamar NU Digelar Tanpa Transaksi Politik

Karena itu, suasana menjelang Muktamar tidak hanya terlihat dari pembangunan fasilitas dan persiapan lokasi.

Geliat masyarakat juga mulai terasa di sekitar kawasan pesantren.

Ribuan jamaah yang hadir dalam istighosah menjadi gambaran bahwa Muktamar tidak hanya dipersiapkan oleh panitia. Masyarakat dan warga Nahdliyin juga ikut mengambil bagian melalui doa dan dukungan.

Di dalam Gedung Serbaguna Hasbullah Said, lantunan istighfar dan shalawat menggema. Jamaah mengikuti rangkaian doa bersama dengan khidmat.

Bagi panitia, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memohon kelancaran seluruh agenda yang akan berlangsung beberapa hari ke depan.

Persiapan teknis Muktamar sendiri terus dilakukan di berbagai sektor. Mulai dari venue persidangan, akomodasi, kepesertaan, hingga kebutuhan pelayanan bagi para muktamirin.

Namun, di tengah persiapan tersebut, pesan yang disampaikan para tokoh NU malam itu menempatkan aspek spiritual sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

Kerja teknis harus berjalan, tetapi doa juga terus dipanjatkan.

Muktamar ke-35 NU sendiri menjadi agenda penting bagi organisasi karena menjadi forum permusyawaratan untuk menentukan arah perjalanan NU ke depan.

Karena itu, suasana menjelang Muktamar menjadi perhatian banyak pihak.

Perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan bagian dari dinamika. Namun, seluruh proses tersebut diharapkan tetap berada dalam bingkai persaudaraan dan tradisi musyawarah.

Baca juga: Pemkab Jombang Siapkan Layanan Kesehatan Gratis untuk Peserta Muktamar NU

Harapan itu pula yang disampaikan melalui istighosah di Tambakberas.

KH Miftachul Akhyar mengingatkan agar seluruh persoalan dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan semangat kebersamaan.

“Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Semua selesai di Tambakberas ini,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penanda bahwa Muktamar ke-35 NU diharapkan berlangsung bukan hanya sukses secara administratif dan teknis, tetapi juga membawa suasana sejuk bagi seluruh warga Nahdliyin.

Dengan waktu pelaksanaan yang tinggal hitungan hari, kawasan Tambakberas kini semakin sibuk.

Panitia terus menyelesaikan berbagai persiapan, sementara masyarakat ikut menyambut dengan berbagai kegiatan keagamaan.

Istighosah menjadi salah satu bentuk penyambutan tersebut.

Dari majelis doa itu, harapan yang dipanjatkan sederhana namun memiliki makna besar: agar Muktamar berjalan aman, lancar, guyub, penuh keberkahan, dan menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi NU, umat, bangsa, dan negara.

Muktamar semakin dekat.

Persiapan lahir terus dikebut, sementara ikhtiar batin juga diperkuat.

Dari Tambakberas, ribuan Nahdliyin mengawali fase akhir menuju Muktamar ke-35 NU dengan doa bersama.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru