Jakarta, MEMANGGIL.CO - Bagi sebagian masyarakat Jawa, menanam tanaman bukan sekadar aktivitas berkebun, tetapi juga memiliki perhitungan tersendiri yang berkaitan dengan tradisi dan kepercayaan leluhur.
Salah satunya terdapat dalam Primbon Jawa, yang mengenal pembagian hari tertentu untuk menanam tanaman berdasarkan bagian tanaman yang nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat.
Dalam salah satu tafsir Primbon Jawa yang dikutip dari kanal YouTube Dewi Sundari, praktisi Kejawen, terdapat sejumlah hari yang dianggap baik untuk bercocok tanam. Setiap hari memiliki jenis tanaman yang berbeda, mulai dari tanaman yang dimanfaatkan batang, daun, bunga, buah hingga akar.
Menariknya, panduan tersebut membuat aktivitas menanam tidak hanya dikaitkan dengan waktu, tetapi juga dengan bagian tanaman yang menjadi hasil utama.
Lantas, hari apa saja yang disebut baik untuk menanam tanaman menurut Primbon Jawa?
Minggu untuk Tanaman yang Dimanfaatkan Batangnya
Dalam kepercayaan Primbon Jawa, Minggu disebut sebagai salah satu hari yang baik untuk bercocok tanam, khususnya tanaman yang bagian batangnya dimanfaatkan.
Beberapa contoh tanaman yang dikaitkan dengan hari Minggu antara lain tebu, bambu, dan tanaman kayu.
Artinya, bagi masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut, Minggu dapat dipilih ketika hendak menanam tanaman yang nantinya memiliki manfaat utama pada bagian batang.
Senin untuk Tanaman yang Diambil Daunnya
Berbeda dengan Minggu, Senin dalam panduan Primbon tersebut dikaitkan dengan tanaman yang bagian daunnya dimanfaatkan.
Contohnya adalah tembakau dan sirih. Jenis tanaman yang manfaat utamanya berada pada bagian daun disebut lebih sesuai ditanam pada hari Senin menurut kepercayaan tersebut.
Selasa Cocok untuk Tanaman Berbunga
Bagi masyarakat yang ingin menanam tanaman bunga, Selasa menjadi hari yang disebut dalam panduan Primbon Jawa.
Tanaman seperti mawar dan melati termasuk contoh tanaman berbunga yang dikaitkan dengan hari tersebut.
Dengan demikian, Selasa dalam tradisi tersebut tidak hanya dipandang sebagai salah satu hari biasa, tetapi memiliki kaitan dengan tanaman yang menghasilkan bunga.
Rabu untuk Tanaman yang Buahnya Dipanen Muda
Selanjutnya ada Rabu, yang dikaitkan dengan tanaman yang menghasilkan buah dan dapat dimanfaatkan ketika masih muda.
Contohnya adalah mangga dan kedondong. Dalam panduan tersebut, jenis tanaman dengan buah yang dapat dikonsumsi sebelum matang disebut cocok ditanam pada hari Rabu.
Kamis untuk Tanaman dengan Buah Matang
Jika Rabu dikaitkan dengan buah yang masih muda, maka Kamis disebut untuk tanaman yang buahnya dimanfaatkan ketika sudah matang.
Beberapa contoh yang disebut antara lain pepaya, rambutan, labu, dan semangka.
Bagi masyarakat yang masih memegang tradisi perhitungan hari, pembagian tersebut menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan waktu bercocok tanam.
Jumat untuk Tanaman yang Dimanfaatkan Akarnya
Sementara itu, Jumat dikaitkan dengan tanaman yang bagian akarnya menjadi hasil utama.
Contohnya adalah ubi, singkong, dan kentang. Tanaman-tanaman tersebut dalam panduan Primbon Jawa disebut sesuai untuk ditanam pada hari Jumat.
Primbon Jawa dan Tradisi Menentukan Waktu Menanam
Pembagian hari tersebut menunjukkan bagaimana Primbon Jawa tidak hanya digunakan untuk pembahasan mengenai watak, jodoh atau rezeki, tetapi juga menyentuh aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk bercocok tanam.
Bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi Jawa, perhitungan seperti ini dapat menjadi bagian dari kearifan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, panduan hari baik menanam tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi Primbon Jawa, sehingga tidak dapat dipahami sebagai aturan ilmiah yang menjamin tanaman pasti tumbuh subur atau menghasilkan panen lebih banyak.
Faktor seperti kualitas bibit, kondisi tanah, air, cuaca, pemupukan, hama, serta teknik budidaya tetap memiliki peranan penting dalam keberhasilan tanaman.
Dengan demikian, Minggu hingga Jumat memiliki jenis tanaman yang berbeda dalam tafsir Primbon Jawa, mulai dari tanaman batang, daun, bunga, buah muda, buah matang hingga tanaman yang dimanfaatkan akarnya.
Bagi yang tertarik dengan budaya Jawa, daftar tersebut dapat menjadi pengetahuan tambahan mengenai cara leluhur menghubungkan aktivitas bercocok tanam dengan perhitungan hari.
Editor : Redaksi