Surabaya, MEMANGGIL.CO - SDN Purwosari 2 dan SDN Purwosari 3 di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, resmi menjadi Sekolah Lestari, Rabu (04/11/2026).

Dua sekolah dasar negeri ini disiapkan menjadi percontohan sekolah hijau berkelanjutan di Indonesia, setelah hampir enam bulan menjalani revitalisasi dan pelatihan guru sejak Mei hingga Oktober 2026.

Revitalisasi meliputi renovasi bangunan eksisting dan pembangunan baru, seperti ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, UKS, perpustakaan, toilet, lapangan basket, lapangan bola/futsal, taman, ruang terbuka hijau, kebun edukasi hidroponik, drainase, kantin, pengelolaan sampah dan pengomposan, hingga pagar. 

Seluruh siswa juga menerima meja-kursi baru, tas, goodie bag, dan tumbler.

Program Sekolah Lestari diinisiasi Yayasan Blue SEED Indonesia dan ChorogUsan for Children, lembaga kesejahteraan anak asal Korea Selatan, dengan pendanaan penuh dari KT&G Social Welfare Foundation, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Pendidikan.

Peresmian dihadiri Wakil Bupati Pasuruan, Kepala Dinas Pendidikan, Camat Purwosari, Kapolsek, Danramil, Lurah Purwosari, jajaran Yayasan Blue SEED Indonesia, serta kepala sekolah dan guru kedua sekolah.

Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menyebut program ini bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan dasar yang aman, sehat, nyaman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

"Revitalisasi tidak hanya diarahkan pada perbaikan fisik, tetapi juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga serta memanfaatkan fasilitas sekolah secara berkelanjutan," jelas Rusdi. 

Sekolah Lestari dirancang menjadikan lingkungan sekitar sebagai sarana belajar. 

Program ini bertumpu pada empat pilar, yakni pengetahuan hijau (green cognitive), sikap hijau (green affective), keterampilan hijau (green psychomotor), dan lingkungan hijau (green environment).

Selain fisik, guru SD dan kepala sekolah se-Kabupaten Pasuruan juga mengikuti pelatihan, mulai dari sekolah aman, literasi lingkungan, PHBS, sekolah ramah anak, adaptasi perubahan iklim, pengelolaan sampah berbasis Adiwiyata, hingga AI dan komunikasi berbasis empati. Siswa juga mengikuti fun learning bertema lingkungan.

Direktur Yayasan Blue SEED Indonesia, Agus Jaenudin, menegaskan program ini tidak hanya soal bangunan.

"Kami tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan perilaku, penguatan kapasitas guru, serta tumbuhnya kepedulian siswa terhadap lingkungan. Harapannya, Sekolah Lestari dapat meningkatkan kapasitas dan motivasi guru serta siswa untuk berwawasan lingkungan," terang Agus.

Ketua Dewan KT&G Social Welfare Foundation, Min Youngjin, berharap perubahan ini membawa dampak positif bagi siswa dan guru. 

Ia juga berterima kasih kepada Pemkab Pasuruan dan semua pihak yang bekerja sama.

Manajer Program Sekolah Lestari, Yuni Setyaningsih, menilai kolaborasi lintas negara ini menjadi kunci keberhasilan.

"Kami percaya SDN Purwosari 2 dan SDN Purwosari 3 akan menjadi pionir dan teladan penerapan sekolah hijau berkelanjutan, tidak hanya di Kabupaten Pasuruan, tetapi juga di Indonesia," ujar Yuni.

Pemkab Pasuruan berharap program ini tidak berhenti di Purwosari dan bisa merambah ke sekolah lain yang masih membutuhkan dukungan.