Blora, MEMANGGIL.CO - Kebiasaan membakar sampah sembarangan ternyata menjadi salah satu pemicu utama tingginya kasus kebakaran di Kabupaten Blora. Dari total 217 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga 6 Oktober 2026, sekitar 130 kasus berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah.

Data tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran di Blora tidak hanya berasal dari korsleting listrik atau faktor teknis lainnya. Aktivitas yang terlihat sederhana seperti membakar sampah justru dapat berubah menjadi petaka ketika api ditinggalkan tanpa pengawasan, terlebih saat kondisi lingkungan memasuki musim kemarau.

Kabid Damkar Satpol PP Kabupaten Blora Hariyanto Purnomo mengatakan, pembakaran sampah menjadi salah satu aktivitas yang cukup banyak berkaitan dengan kejadian kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh api yang digunakan untuk membersihkan sampah di sekitar rumah maupun lahan.

“Bakar sampah menjadi salah satu aktivitas yang cukup banyak berkaitan dengan kejadian kebakaran,” kata Hariyanto, ditulis Rabu (7/10/2026). 

Lonjakan kasus kebakaran paling terlihat dalam periode Juli hingga September 2026. Dalam tiga bulan tersebut, petugas mencatat 159 kejadian kebakaran, sehingga periode kemarau menjadi salah satu fase yang perlu diwaspadai masyarakat Blora.

Kondisi lingkungan yang kering membuat api lebih cepat menjalar ketika mengenai rumput, semak, bambu hingga material mudah terbakar lainnya. Api dari tumpukan sampah yang semula terlihat kecil pun dapat merembet ke area sekitar apabila tidak diawasi dengan baik.

Hariyanto mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan lokasi setelah selesai membakar sampah. Sumber api harus dipastikan benar-benar padam agar tidak kembali menyala dan merembet ke lingkungan sekitar.

“Jangan meninggalkan api setelah membakar sampah. Pastikan benar-benar padam sebelum ditinggalkan,” ujarnya.

Selain pembakaran sampah, korsleting listrik juga menjadi salah satu penyebab yang cukup menonjol. Setelah data penyebab kebakaran dikelompokkan, sekitar 64 kejadian berkaitan dengan korsleting listrik.

Dua faktor tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, baik ketika menggunakan api maupun saat menggunakan instalasi listrik. Kelalaian kecil di tengah kondisi lingkungan yang kering dapat membuat api berkembang cepat dan sulit dikendalikan.

Damkar Satpol PP Kabupaten Blora pun mengingatkan warga untuk segera mengambil tindakan apabila melihat api mulai membesar. Masyarakat tidak dianjurkan memaksakan diri memadamkan api apabila kondisinya sudah tidak terkendali.

“Kalau api mulai membesar dan tidak bisa dikendalikan, segera laporkan kepada petugas,” tegas Hariyanto.

Tingginya angka kebakaran di Blora sepanjang 2026 menjadi alarm agar pencegahan dilakukan sejak dari sumbernya.

Mengawasi proses pembakaran sampah, memastikan api benar-benar padam, serta memperhatikan kondisi instalasi listrik menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menekan risiko kebakaran.