Blora, MEMANGGIL.CO - Bukan hanya api yang membesar, kerugian akibat kebakaran di Kabupaten Blora sepanjang 2026 juga ikut melonjak. Dari 217 kejadian kebakaran, 43 kasus yang memiliki catatan kerugian tercatat menelan kerugian material sekitar Rp12,705 miliar.

Angka tersebut menjadi gambaran besarnya dampak kebakaran terhadap aset warga maupun tempat usaha. Bahkan, satu kejadian kebakaran di Kecamatan Ngawen saja diperkirakan menyebabkan kerugian hingga Rp4,5 miliar.

Kebakaran ruko yang terjadi pada 7 Maret 2026 tersebut menjadi salah satu kasus dengan nilai kerugian terbesar yang tercatat Damkar Satpol PP Kabupaten Blora. Api tidak hanya mengancam bangunan, tetapi juga berpotensi menghanguskan aset bernilai tinggi dalam waktu singkat.

Kabid Damkar Satpol PP Kabupaten Blora Hariyanto Purnomo mengatakan, besarnya kerugian sangat bergantung pada objek yang terbakar. Ketika api mengenai bangunan usaha atau aset bernilai tinggi, dampak ekonominya bisa sangat besar.

“Kerugian akibat kebakaran bisa sangat besar, terutama ketika yang terbakar merupakan bangunan usaha atau aset bernilai tinggi,” kata Hariyanto, ditulis Rabu (7/10/2026). 

Kasus dengan kerugian fantastis tidak berhenti di Ngawen. Kebakaran kandang ayam di Randublatung juga tercatat menyebabkan kerugian sekitar Rp1,9 miliar.

Kemudian ada kebakaran di Kunduran dengan kerugian sekitar Rp1,8 miliar. Tak jauh dari itu, kebakaran pabrik briket di Kunduran juga menimbulkan kerugian sekitar Rp1 miliar.

Sementara kebakaran rumah di Japah pada Juli 2026 tercatat menyebabkan kerugian sekitar Rp600 juta. Deretan angka tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran dapat berubah menjadi pukulan ekonomi besar bagi pemilik aset dalam sekejap.

Namun, angka Rp12,705 miliar tersebut bukan berarti seluruh 217 kejadian kebakaran memiliki nilai kerugian yang sama. Nominal itu berasal dari 43 kejadian yang memiliki catatan nilai kerugian, sedangkan total kejadian kebakaran yang tercatat sepanjang Januari hingga 6 Oktober 2026 mencapai 217 kasus.

Damkar Satpol PP Kabupaten Blora mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kebakaran terjadi untuk meningkatkan kewaspadaan. Pencegahan terhadap sumber api dan instalasi listrik dinilai menjadi langkah penting untuk menghindari kerugian yang jauh lebih besar.

“Pencegahan jauh lebih penting. Masyarakat harus berhati-hati dengan sumber api maupun instalasi listrik,” ujar Hariyanto.

Besarnya kerugian tersebut menjadi peringatan bahwa kebakaran bukan sekadar persoalan memadamkan api. Ketika bangunan usaha, rumah, kandang maupun fasilitas produksi terbakar, dampaknya dapat langsung menyentuh kondisi ekonomi pemiliknya.