Tuban, MEMANGGIL.CO - Di sebuah sudut Jalan RE Martadinata, Tuban Abirama berdiri dengan nama besar dan anggaran yang tak kecil. Ruang terbuka publik itu sempat dielu-elukan sebagai wajah baru kota, simbol keterbukaan, dan pusat denyut ekonomi kreatif.
Namun, harapan itu kembali runtuh "secara harfiah" saat sebagian plafon bangunan utamanya ambrol.
Baca juga: Isu Selingkuh Ricky Harun Menguat Usai Video Karaoke Bersama LC Tersebar
Bangunan yang dibiayai dari uang rakyat bernilai sekitar Rp 15 miliar itu belum genap dua tahun diresmikan. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tetapi suara benturan plafon yang jatuh seolah memantul lebih keras di ruang publik yakni tentang kualitas, perawatan, dan tanggung jawab.
"Rontok bolo (ambruk teman)," suara dalam video yang viral di media sosial.
Pemerintah daerah melalui Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban, Gunadi, menyebut angin kencang sebagai penyebab awal kerusakan. Berdasarkan laporan kejadian dan pengecekan lapangan, faktor cuaca disebut menjadi pemicu ambrolnya plafon.
“Berdasarkan laporan saat kejadian dan hasil pengecekan kami, kerusakan sebagian plafon disinyalir karena angin kencang,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Penjelasan itu tak serta-merta menutup tanda tanya. Sebab, ini bukan kali pertama Abirama menunjukkan rapuhnya struktur.
Pada April 2024, kejadian serupa juga pernah terjadi. Waktu itu, bangunan bahkan baru saja diresmikan.
Masalah Tuban Abirama pun tak berhenti pada kerusakan fisik. Proyek yang ditargetkan rampung pada Desember 2022 itu sempat molor cukup lama, hingga akhirnya baru dibuka untuk umum pada April 2024.
Baca juga: Prabowo Salurkan 200 Becak Listrik untuk Lansia Surabaya, DPRD: Solusi Konkret Ekonomi Rakyat
Keterlambatan itu pernah memantik sorotan, namun seiring peresmian, kritik perlahan mereda hingga plafon kembali jatuh.
Padahal, Abirama bukan proyek biasa. Kawasan bekas rest area itu dirancang sebagai pusat UMKM, ruang publik terbuka, dan magnet ekonomi kreatif. Tempat di mana warga bisa berkumpul, pelaku usaha kecil tumbuh, dan wajah kota tampil lebih hidup.
Saat peresmian, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa Tuban Abirama dibangun dengan konsep terbuka.
Sebuah simbol masyarakat Tuban yang berpikiran terbuka, adaptif, dan terus berinovasi.
Namun hari ini, simbol itu tampak kehilangan denyutnya. Kawasan Abirama terlihat lengang, dengan sejumlah sudut yang terkesan kurang terawat.
Baca juga: Pantangan Bulan Ruwah dalam Jawa: Dari Hari Naas hingga Tradisi Nyadran
Ambrolnya plafon seolah menjadi metafora bahwa bukan hanya bangunan yang runtuh, tetapi juga kepercayaan publik yang perlahan retak.
Pemerintah menyebut perbaikan sudah dilakukan. "Saat ini sudah dalam perbaikan," ungkap Gunadi.
Namun bagi masyarakat, pertanyaan yang tersisa lebih besar dari sekadar perbaikan plafon. Tentang mutu pembangunan, pengawasan proyek, hingga keseriusan merawat fasilitas publik yang dibangun dari uang rakyat.
Sebab, ruang publik bukan sekadar bangunan. Ia adalah janji dan setiap janji yang retak, selalu menyisakan gema yang sulit diredam.
Editor : Abdul Rohman