Tuban, MEMANGGIL.CO - Malam itu seharusnya tenang. Rumah sederhana di Kecamatan Kota Tuban berdiri seperti biasa, sunyi, tanpa firasat buruk.
Namun di balik dindingnya, sebuah percakapan lama yang muncul kembali telah menyalakan api yang tak lagi bisa dipadamkan.
Baca juga: Hampir Sepekan, Pemkab Tuban Ragu Bongkar Cuan dari Pajak Konser NDX AKA
Sebuah nama dari masa lalu. Seorang teman lama. Dan cemburu yang perlahan berubah menjadi amarah.
DS (40), bapak dua anak, menatap layar ponsel istrinya dengan dada berdegup cepat. Pesan WhatsApp itu singkat, namun cukup untuk mengusik rasa percaya yang telah lama dibangun dalam rumah tangga.
Kata-kata yang dianggapnya mesra membuat pikirannya dipenuhi prasangka.
Suasana pun berubah menjadi arena tuduhan. DK (40), sang istri, mencoba menjelaskan. Ia bersumpah tak ada hubungan apa pun selain pertemanan lama yang kembali menyapa.
Namun bagi DS, penjelasan itu tak lagi terdengar. Cemburu telah menutup pintu nalar.
Cekcok tak terelakkan. Suara meninggi. Kata-kata berubah tajam. Hingga akhirnya, emosi menguasai segalanya.
Tubuh DK dibanting ke lantai. Rasa sakit menjalar seketika.
Pukulan menghantam leher kanan, tamparan mendarat di mulut. Tangis pecah di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang istri.
“Pelaku membanting korban ke lantai, kemudian memukul leher dan menampar mulut korban,” ungkap Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP Bobby Wirawan Wicaksono.
Baca juga: Penindakan Tambang Liar di Tuban Masih Abu-abu
Namun malam itu bukan satu-satunya luka. Bagi DK, kekerasan bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba.
Ia telah berulang kali merasakan ketakutan yang sama. Pada kejadian sebelumnya, ancaman bahkan datang bersama sebilah pisau dapur.
Ujungnya diarahkan ke dada, dekat dengan jantung, meninggalkan luka, bukan hanya di tubuh, tetapi juga di batin.
“Pelaku pernah mengarahkan pisau ke dada korban hingga menimbulkan luka bekas tusukan,” tambah AKP Bobby.
Setiap detik setelahnya adalah pergulatan antara bertahan atau menyelamatkan diri. Hingga akhirnya, DK memilih satu hal yang tersisa yakni keberanian untuk melapor.
Baca juga: 10 Fakta ASN Tuban Aniaya 4 Pegawai SPBU hingga Berujung Dibekuk Polisi
Bukan demi balas dendam, melainkan demi keselamatan dirinya dan masa depan anak-anak yang menyaksikan ketegangan dalam diam.
Kini, DS telah diamankan. Pisau yang dulu menjadi alat ancaman ikut disita.
Proses hukum berjalan, meski luka yang ditinggalkan tak serta-merta sembuh.
Kisah ini bukan sekadar tentang cemburu. Ini tentang bagaimana rasa memiliki berubah menjadi kekerasan.
Tentang bagaimana rumah bisa menjadi tempat paling berbahaya ketika emosi tak lagi terkendali. Dan tentang seorang perempuan yang akhirnya berkata cukup, ketika cinta tak lagi melindungi, melainkan melukai.
Editor : Abdul Rohman