Bupati Blora Hadiri Apel Kemanusiaan PWNU Jateng, Tegaskan NU Hadir Nyata di Tengah Bencana

Reporter : Redaksi
Gus Arief (baju hitam) ketika menghadiri Apel Kemanusiaan yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah. (Foto: Dok. Bupati Blora)

Batang, MEMANGGIL.CO - Bupati Blora, H. Arief Rohman atau yang akrab disapa Gus Arief menghadiri Apel Kemanusiaan yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dalam rangka peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama di Alun-alun Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Apel ini menjadi simbol kepedulian dan respons nyata NU terhadap berbagai bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Apel kemanusiaan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, Gus Rozin, serta diikuti jajaran pengurus PWNU, para ketua badan otonom NU, relawan tanggap bencana PCNU se-Jawa Tengah, dan sejumlah kepala daerah. Bupati Batang hadir sebagai tuan rumah, sementara Gus Arief hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Blora.

Dalam keterangannya di sela kegiatan, Gus Arief menegaskan bahwa apel kemanusiaan bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk konsolidasi kekuatan sosial NU dalam merespons penderitaan masyarakat akibat bencana.

“Apel kemanusiaan ini bukan acara simbolik. Ini adalah pesan kuat bahwa NU selalu hadir ketika umat dan masyarakat membutuhkan,” ujar Gus Arief, ditulis Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, NU memiliki sejarah panjang dalam gerakan sosial dan kemanusiaan, sehingga kehadiran ribuan kader dan relawan dalam apel tersebut menunjukkan jati diri jam’iyyah yang sesungguhnya.

“NU sejak awal lahir bukan hanya mengurusi soal keagamaan, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Ketika ada bencana, NU tidak boleh absen,” katanya.

Gus Arief selaku Ketua Pimpinan Wilayah PSNU Jawa Tengah juga menyoroti keterlibatan relawan NU yang hingga saat ini masih bertugas di sejumlah daerah terdampak bencana.

Ia menyebut hal itu sebagai bukti bahwa pengabdian NU tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

“Kita tahu, ada relawan NU yang hari ini masih bertugas di Aceh, Tegal, Pemalang, dan daerah lain. Ini bukti bahwa pengabdian NU benar-benar bekerja di lapangan, bukan hanya hadir di panggung,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Arief menekankan bahwa momentum satu abad NU harus dimaknai sebagai penguatan peran dan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Satu abad NU ini bukan sekadar peringatan usia organisasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana NU semakin dekat dengan umat dan semakin besar manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen NU dan pemerintah daerah untuk terus memperkuat semangat gotong royong dalam menghadapi berbagai tantangan, khususnya kebencanaan.

“Bencana tidak bisa dihadapi sendiri. Dibutuhkan kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas. NU sudah memberi contoh bagaimana kekuatan sosial ini dibangun,” kata Gus Arief.

Apel kemanusiaan PWNU Jawa Tengah tersebut turut dimeriahkan dengan penampilan seni bela diri dari PSNU Pagar Nusa.

Bagi Gus Arief, penampilan itu bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kesiapsiagaan kader NU dalam menjaga umat dan bangsa.

“Pagar Nusa menunjukkan bahwa kader NU tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga siap secara fisik dan mental untuk mengabdi kepada masyarakat,” ucapnya.

Gus Arief menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Blora untuk terus bersinergi dengan NU dan seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Kami akan terus bersinergi dengan NU dan seluruh elemen masyarakat demi kemaslahatan bersama,” pungkasnya.

Melalui apel kemanusiaan ini, PWNU Jawa Tengah bersama pemerintah daerah berharap semangat kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong terus terjaga, sekaligus menjadi fondasi kuat dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan di masa mendatang.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru