OJK Jatim Optimis Tatap 2026: Sektor Perbankan Tumbuh Positif Meski Alami Perlambatan

Reporter : Adji
Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), Edukasi, Perlindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jatim, Horas V.M. Tarihoran saat memaparkan kondisi OJK saat ini (Adji/Memanggil.Co )

Surabaya, MEMANGGIL.CO  – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur menyampaikan  kinerja sektor keuangan di wilayah tersebut tetap menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025. 

Meski dibayangi sedikit perlambatan pada fungsi intermediasi, OJK optimis konsumsi masyarakat yang meningkat di tahun 2026 akan kembali memacu pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana.

Hal tersebut dipaparkan,  Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), Edukasi, Perlindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jatim, Horas V.M. Tarihoran, ia mengungkapkan  per Desember 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) di Jawa Timur tumbuh sebesar 3,5% secara tahunan (year-on-year).

"Kami tetap optimis karena masih menunjukkan pertumbuhan, meskipun ada sedikit perlambatan dibanding tahun 2024 yang mampu mencapai 4,94%," papar Horas dalam keterangannya pada acara Media Briefing di Kantor BI, Senin 9 Februari 2026.

Ia menjelaskan, sektor perbankan di Jawa Timur mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 1,9%. Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat di angka 3,37%, sedikit meningkat dari periode sebelumnya yang berada di level 2,88%.

Menariknya, penyaluran kredit di Jawa Timur masih didominasi oleh sektor produktif dengan total mencapai 68%, yang terdiri dari nodal kerja: 50,88%, Investasi: 17,5%.

Sedangkan untuk Sisanya sebesar 31% diserap oleh sektor konsumtif.

Ia menambahkan, berdasarkan sektor ekonomi, rumah tangga menjadi penyerap kredit terbesar senilai Rp.190 triliun (30,49%), disusul oleh perdagangan besar dan eceran 25,6%, serta industri pengolahan 19%.

Di sektor UMKM, OJK mencatat porsi kredit mencapai 37,17�ri total penyaluran, dengan tingkat NPL yang masih terkendali di kisaran 5%. Khusus untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi primadona dengan serapan masing-masing 44�n 47%.

Di sektor Pasar Modal, Jawa Timur menunjukkan performa yang impresif.Menurut Horas, saat ini terdapat 58 emiten asal Jatim dengan total penghimpunan dana mencapai Rp.15,15 triliun.

Selain itu, untuk transaksi saham, rata-rata transaksi bulanan sepanjang 2025 mencapai Rp.34,1 triliun.

Sedangkan untuk Security Crowdfunding (SCF), saat ini juga  mengalami lonjakan signifikan sebesar 109,8�ngan total dana terhimpun Rp.82,68 miliar.

Sementara itu, Horas juga menyebutkan adanya harapan besar pada tahun 2026. Berdasarkan survei internal, diprediksi akan terjadi peningkatan konsumsi masyarakat yang signifikan pada pertengahan hingga kuartal ketiga tahun 2026.

"Kami berharap peningkatan konsumsi ini berdampak langsung pada percepatan kembali permintaan kredit perbankan dan penghimpunan dana masyarakat," pungkasnya. 

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru