Jakarta, MEMANGGIL.CO - Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengirim hingga 8.000 tentara ke Gaza sebagai bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Maruli Simanjuntak, mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap negosiasi dan belum ada keputusan final terkait jumlah pasukan yang akan diberangkatkan.
“Semuanya masih dalam tahap pembahasan, belum pasti. Jadi belum ada kepastian mengenai jumlah pasukan,” ujar Maruli. Selasa(10/02/2026)
Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah mulai melatih personel yang dipersiapkan sebagai pasukan penjaga perdamaian. Unit yang disiapkan antara lain berasal dari bidang teknik dan kesehatan.
Jika terealisasi, pengiriman pasukan ini akan menjadi momen bersejarah. Pasukan Indonesia akan menjadi pasukan asing pertama yang ditempatkan di Gaza sejak 1967. Indonesia juga menjadi negara pertama yang menyatakan komitmen jumlah pasukan secara spesifik dalam rencana pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).
Menurut laporan media Israel, lokasi di Gaza selatan, antara Rafah dan Khan Younis, telah disiapkan sebagai barak bagi pasukan Indonesia.
Rencana perdamaian yang dipaparkan oleh Jared Kushner, menantu Donald Trump, mengusulkan pembentukan pemerintahan sementara di Gaza yang dijalankan oleh teknokrat Palestina. Pemerintahan tersebut akan dibantu oleh pasukan keamanan yang dilatih di Yordania dan Mesir.
Namun, peran pasukan internasional masih belum sepenuhnya jelas. Beberapa negara, termasuk Indonesia, berhati-hati agar tidak terlibat dalam upaya pelucutan senjata Hamas atas nama pihak tertentu.
Di sisi lain, Presiden Indonesia Prabowo Subianto disebut telah menyetujui untuk bergabung dalam “dewan perdamaian” yang dipimpin Trump. Dewan tersebut bertugas mengawasi proses perdamaian di Gaza dan kemungkinan konflik lain di dunia.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai pertaruhan diplomatik. Jika berhasil, Indonesia dapat meningkatkan peran dan pengaruhnya di tingkat global. Namun jika tidak dikelola dengan hati-hati, Indonesia berisiko terlibat dalam konflik yang kompleks dan sensitif.
Keputusan akhir terkait pengiriman pasukan masih menunggu hasil pembahasan lanjutan antara pihak-pihak terkait.
Editor : B. Wibowo