Haru di Wisuda Unesa, Ibu dan Anak Lulus Bersama

Reporter : Adji
Sri Wahyuningsih, S2 Manajemen Pendidikan RPL (kiri), Sahda Atthiyah Tsaqif Qonita S1 Hukum (kanan) ( Adji/Memanggil. co )

Surabaya, MEMANGGIL.CO  – Tangis haru dan senyum bangga menyatu di Graha Unesa, Rabu, 11 Februari 2026. Di antara ratusan wisudawan, ada satu pasangan yang mencuri perhatian: seorang ibu dan anak yang lulus di hari yang sama.

Sri Wahyuningsih, guru SMP Negeri 1 Kasiman, Bojonegoro, resmi menyandang gelar Magister Manajemen Pendidikan. Di sampingnya, sang putri, Sahda Atthiyah Tsaqif Qonita, dikukuhkan sebagai Sarjana Hukum. Bukan sekadar wisuda biasa, momen ini menjadi simbol perjuangan lintas generasi dalam satu keluarga.

Keduanya berhasil menuntaskan studi tepat waktu, meski berada di jenjang dan tantangan yang berbeda. Sri menempuh pendidikan S2 melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) selama satu tahun. Sementara Sahda, penerima beasiswa penuh, menyelesaikan studi sarjana dalam delapan semester.

Di balik toga yang mereka kenakan, ada cerita tentang kerja keras dan saling menguatkan. Sahda mengungkapkan, tantangan terbesar sang ibu adalah beradaptasi dengan teknologi perkuliahan modern.

"Saya membantu Mama memahami teknologi kuliah masa kini. Paling sering membantu operasional aplikasi Mendeley untuk referensi karya ilmiah dan cara mencari jurnal internasional terbaru secara instan. Kami saling support agar bisa lulus di waktu yang sama," kata Sahda kepada Memanggil.co usai prosesi wisuda.

Sri pun tak sungkan belajar dari anaknya. Baginya, keterbukaan terhadap pengetahuan baru termasuk dari generasi muda adalah kunci untuk terus berkembang.

Perjalanan Sri meraih gelar magister bukan tanpa rintangan. Berdomisili di Cepu, Jawa Tengah, ia harus menempuh perjalanan lintas kabupaten untuk mengajar di Bojonegoro sekaligus menjalani studi. Tugasnya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menuntut energi ekstra, terlebih ia juga mengikuti Diklat Calon Kepala Sekolah (CKS).

"Waktu saya mendaftar RPL, agenda sekolah sangat padat. Namun, berkat izin belajar dari BKPP dan dukungan penuh dari Bapak Kepala SMPN 1 Kasiman, saya bisa menjalani ujian dan sidang di kampus dengan lancar," ungkap Sri Wahyuningsih.

Keberhasilan ini menjadi kado istimewa bagi Sri yang kini tengah menunggu Surat Keputusan (SK) penempatan sebagai Kepala Sekolah. Gelar magister yang diraihnya bukan sekadar capaian akademik, tetapi bekal kepemimpinan untuk mengelola sekolah dengan lebih profesional.

"Harapan saya, ilmu ini bisa langsung saya terapkan dalam kepemimpinan saya di tempat baru. Insyaallah, apa yang saya dapatkan dari Unesa akan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan," tutupnya optimis.

Kisah Sri dan Sahda membuktikan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia. Ketika keluarga saling mendukung, ruang belajar bukan lagi sekadar kampus, melainkan rumah yang menjadi sumber kekuatan. Di panggung wisuda itu, mereka tidak hanya meraih gelar mereka merayakan mimpi yang diperjuangkan bersama.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru