Angker! Kisah Mistis Beringin Putih di Jalur Maut Alas Roban

Reporter : B. Wibowo
Alas Roban (Foto: Istimewa)

Batang, MEMANGGIL.CO – Jalur berkelok di kawasan Alas Roban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sejak lama dikenal sebagai salah satu ruas paling angker di Pantura. Di antara tikungan curam dan jurang yang menganga, warga menyebut satu titik yang paling dihindari saat malam: Beringin Putih Poncowati.

Pohon itu berdiri tak jauh dari tikungan tajam yang kerap diselimuti kabut. Batangnya besar, akarnya menjuntai seperti tirai kusut, dan dedaunannya tampak lebih pucat dibanding beringin lain di sekitarnya. Sopir-sopir truk yang melintas tengah malam mengaku sering melihat bayangan putih berdiri tepat di bawahnya—diam, tanpa wajah.

“Kalau lewat jam dua pagi, suasananya beda. Mesin mendadak berat, radio berdesis sendiri,” tutur Suyatno (45), sopir ekspedisi asal Surabaya yang rutin melintasi jalur itu. Ia mengaku pernah melihat sosok perempuan berbaju putih berdiri membelakangi jalan, tepat ketika rem truknya terasa blong sesaat. “Begitu saya klakson panjang, sosoknya hilang. Rem normal lagi.”

Warga Desa Poncowati menyimpan cerita turun-temurun. Konon, di masa lalu, kawasan itu menjadi saksi kecelakaan beruntun dan perampokan. Ada pula kisah tentang rombongan pengantin yang tak pernah sampai tujuan. Sejak itu, beringin putih dipercaya sebagai “penjaga” yang menagih janji atau sekadar menampakkan diri pada mereka yang melaju terlalu cepat.

Tidak sedikit pengendara mengaku melihat penumpang misterius tiba-tiba duduk di jok belakang sepeda motor saat melintasi tikungan tersebut. Saat menoleh, bangku kembali kosong. Ada pula yang mendengar suara tangis lirih bercampur angin, padahal malam sedang tanpa hujan.

Tokoh masyarakat setempat, Mbah Wiryo (67), menyebut pohon itu bukan untuk ditantang, melainkan dihormati. “Yang lewat cukup permisi. Jangan sembarangan berkata kasar,” ujarnya. Menurutnya, sebagian kejadian bisa jadi hanya efek lelah dan sugesti. Namun ia tak menampik bahwa Alas Roban menyimpan energi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Catatan kepolisian memang menunjukkan jalur Alas Roban rawan kecelakaan, terutama saat hujan dan kabut tebal. Tikungan menurun panjang serta minimnya penerangan menjadi faktor dominan. Meski begitu, kisah Beringin Putih Poncowati terus hidup dari mulut ke mulut, dari warung kopi hingga kabin truk yang melaju pelan menembus gelap.

Malam itu, sekitar pukul 02.17 WIB, seorang pengendara ojek daring yang melintas mengaku melihat kain putih tersangkut di akar beringin. Saat didekati, kain itu berubah menjadi bayangan tinggi yang melayang perlahan ke arah jurang. Pagi harinya, tak ada apa-apa selain akar tua yang basah oleh embun.

Benarkah ada sosok yang menjaga tikungan Poncowati? Ataukah ketegangan di jalur maut membuat mata dan pikiran bermain sendiri? Yang pasti, bagi para pelintas setia Alas Roban, satu pesan selalu diingat: kurangi kecepatan, fokus pada jalan, dan jika perlu ucapkan permisi pada Beringin Putih sebelum menembus kabut malam.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru