Surabaya, MEMANGGIL.CO - Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns.,M.Kep., menyoroti meningkatnya persoalan psikososial di masyarakat .
Terlebih persoalan tersebut dinilai kerap tidak terdeteksi dan dianggap sepele.
Menurut Prof Mundakir, masalah psikososial tidak selalu berkaitan dengan gangguan jiwa berat, melainkan tekanan mental yang dialami masyarakat sehari-hari, seperti stres, depresi, merasa kesepian, hingga mudah marah.
“Psikososial itu adalah tekanan jiwa yang dialami masyarakat. Bentuknya bisa depresi, stres, merasa sendiri, mudah marah dan lain-lain. Masalah itu sebenarnya banyak di masyarakat, namun tidak terdeteksi atau tidak dianggap serius,” jelas Prof.Mundakir usai pengukuhan guru besar di Auditorium Lt.13 At-Tauhid Tower UMSURA, Kamis (30/04/2026).
Mundakir menilai, dampak dari masalah psikososial yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi tindakan ekstrem di masyarakat, termasuk kekerasan hingga pembunuhan.
“Kita lihat masalah sedikit bisa pembunuhan. Itu adalah masalah psikososial yang sudah lama terpendam. Kalau tidak dicegah dan diantisipasi dari awal, maka kejadian tawuran, permusuhan, termasuk pembunuhan akan semakin sering,” terangnya.
Prof Mundakir juga mengajak tenaga kesehatan agar tidak hanya berfokus pada penanganan fisik atau biomedis pasien, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan sosial mereka.
“Dalam memberikan layanan jangan hanya ditanya mana yang sakit, tetapi juga bagaimana perasaannya, apakah bisa tidur nyenyak, bagaimana nafsu makannya, bagaimana hubungan dengan keluarga dan tetangga. Itu penting karena esensi sehat adalah holistik,” paparnya.
Mundakir menjelaskan, konsep sehat tidak hanya bebas dari penyakit fisik, melainkan mencakup aspek psikologis, sosial, budaya, dan spiritual secara menyeluruh.
Prof Mundakir juga memaparkan hasil risetnya terkait kondisi psikologis pekerja migran, khususnya perawat Indonesia di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah.
Menurutnya, meski para pekerja migran memperoleh keuntungan ekonomi yang lebih baik, banyak di antara mereka menghadapi tekanan psikologis selama bekerja di luar negeri.
“Kami menemukan sebagian perawat migran diperlakukan tidak adil. Ada yang merasa kalah karena faktor bahasa, budaya, atau karakter yang dianggap terlalu lembut dibanding tenaga kesehatan lain,” ungkapnya.
Penelitian tersebut dilakukan selama enam bulan hingga satu tahun dalam bentuk survei dan melibatkan perawat migran di Jepang, negara-negara Timur Tengah, dan sejumlah negara Asia lainnya.
“Fenomena ini belum banyak diungkap. Padahal masalah psikologis pada pekerja migran cukup besar dan perlu perhatian,” ujarnya.
Ketua Senat Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Dr. dr. Sukadiono., M.M., mengaku optimis terhadap peningkatan jumlah guru besar di lingkungan UMSURA dalam beberapa tahun ke depan.
“Alhamdulillah tiap tahun kita ada guru besar yang mendapat SK dari Menteri Pendidikan Tinggi Saintek. Capaian ini jangan berhenti sampai di sini. Kita ingin dosen-dosen mengejar jabatan fungsional akademiknya,” jelasnya.
Menurutnya, UMSURA saat ini memiliki cukup banyak dosen dengan jabatan lektor kepala yang berpotensi naik menjadi guru besar.
“Kita punya stok lektor kepala yang cukup banyak. Kita berharap ke depan lektor-lektor kepala di Universitas Muhammadiyah Surabaya bisa segera melakukan akselerasi naik jabatan menjadi guru besar,” ungkapnya.
Ia memperkirakan pada tahun ini masih akan ada tambahan dua hingga tiga guru besar baru di UMSURA, sementara tahun depan ditargetkan sedikitnya lima dosen dapat meraih jabatan profesor.
“Dengan jumlah doktor yang cukup banyak, sekitar 40 persen dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya sudah bergelar doktor, saya kira tiap tahun minimal ada tiga orang yang bisa dikukuhkan menjadi guru besar,” katanya
Untuk mendukung percepatan tersebut, UMSURA juga menyiapkan pendampingan publikasi ilmiah melalui lembaga pengembangan publikasi dan jurnal yang bekerja sama dengan biro SDM kampus.
“Kami akan membantu teman-teman lektor kepala agar memiliki publikasi di jurnal-jurnal berkualitas sehingga bisa mempercepat proses menuju guru besar,” pungkasnya.
Editor : Redaksi