Tuban, MEMANGGIL.CO – Setelah sempat tertunda selama hampir dua pekan, ratusan peserta didik baru Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Tuban akhirnya dapat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di gedung baru yang berlokasi di Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Kamis (30/7/2026).
Siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD), SMP, hingga SMA mulai memasuki kawasan sekolah dengan didampingi orang tua maupun kerabat untuk menempati asrama yang telah disiapkan.
Meski kegiatan MPLS dan pembelajaran telah dimulai, proses pembangunan gedung yang dikerjakan PT Waskita Karya masih berlangsung.
Terpantau sejumlah pekerja masih beraktivitas di area proyek, sementara tumpukan material bangunan, alat berat, dan pekerjaan penyelesaian di beberapa titik masih terlihat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas konstruksi masih berlangsung bersamaan dengan dimulainya kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah.
Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky turut menghadiri kegiatan Open House dan pembukaan MPLS Sekolah Rakyat. Dalam sambutannya, ia menegaskan seluruh kebutuhan pendidikan para siswa ditanggung oleh negara.
"Kalau teman-teman ingin tahu, kita tahu bersama ini semuanya ditanggung oleh negara," ungkap Bupati Tuban.
Ia menyampaikan kebutuhan itu mulai dari apa yang mereka kenakan, sampai bahkan mereka mendapatkan konsumsi sehari tiga kali, dan ada tambahan snack dan seterusnya.
"Artinya, Bapak Presiden bukan hanya meningkatkan pendidikan, tetapi juga memperbaiki gizi," tambah Aditya Halindra Faridzky.
Menurut Bupati yang akrab disapa Mas Lindra itu, Sekolah Rakyat bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi para siswa untuk belajar hidup bersama dengan latar belakang yang beragam.
"Yang paling penting, di sini juga bisa mencerminkan 'Nusantara'-nya. Bagaimana semua membaur tanpa melihat latar belakang sesuatu. Sehingga pilot project Sekolah Rakyat Terintegrasi dari inisiasi Bapak Presiden ini adalah solusi yang terbaik untuk meningkatkan potensi-potensi dalam menyongsong Generasi Emas 2045," katanya.
Proyek Sekolah Rakyat Molor
Pelaksanaan MPLS dan proses pembelajaran sempat tertunda akibat pembangunan gedung yang belum selesai sesuai target.
Berdasarkan kontrak awal, proyek tersebut dijadwalkan rampung pada 20 Juni 2026. Namun, pelaksana proyek kemudian mengajukan addendum perpanjangan waktu hingga 25 Juli 2026.
Meski telah memasuki masa pembelajaran, penyelesaian pembangunan hingga kini masih terus dilakukan.
Koordinator Wilayah Pembangunan Sekolah Rakyat Tuban dari PT Waskita Karya, Agus Saputra, belum memberikan penjelasan terkait penyebab keterlambatan penyelesaian pembangunan hingga saat ini.
Upah Buruh Belum Terbayar
Selain keterlambatan proyek, pembangunan Sekolah Rakyat Tuban juga sempat menjadi sorotan publik setelah muncul keluhan sejumlah pekerja yang mengaku upah mereka belum dibayarkan selama beberapa minggu.
Keluhan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan hingga kini belum mendapat penjelasan resmi dari pihak pelaksana proyek.
Sebagai informasi, Sekolah Rakyat Tuban merupakan bagian dari Program Sekolah Rakyat Provinsi Jawa Timur I yang didanai melalui APBN Tahun Anggaran 2026.
Paket pekerjaan senilai sekitar Rp1,1 triliun tersebut mencakup pembangunan Sekolah Rakyat di lima daerah, yakni Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Tuban, Kabupaten Sampang, dan Kabupaten Jombang.
Sekolah Rakyat Tuban dirancang menggunakan konsep pendidikan berasrama dengan kapasitas sekitar 1.000 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA dan diproyeksikan menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.