Polusi Debu di Tuban, Semen Indonesia Akui Ada Warga Sesak Napas dan Bau Menyengat

Reporter : Redaksi
Senior Manager of Corporate Communication PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Pabrik Tuban, Dharma Sunyata. (dok, memanggil.co)

Tuban, MEMANGGIL.CO – Polemik dugaan polusi debu dari aktivitas operasional PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Pabrik Tuban terus menjadi perhatian. Keluhan warga terkait debu, gangguan pernapasan hingga munculnya bau menyengat mendapat respons langsung dari pihak perusahaan.

Senior Manager of Corporate Communication PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, mengakui pihaknya menerima informasi adanya warga yang mengalami sesak napas.

Baca juga: Ratusan Rumah Warga hingga Anggota DPRD Tuban Terdampak Debu Semen Indonesia

Namun, perusahaan belum menyimpulkan bahwa gangguan kesehatan tersebut disebabkan oleh debu dari aktivitas pabrik.

Hal itu disampaikan Dharma usai audiensi bersama Komisi I DPRD Tuban, perwakilan warga terdampak, serta pemerintah setempat, Rabu, (13/8/2026).

"Saya ada informasi ada warga yang sesak napas. Kemudian sakit kulit. Kalau debu dari semen, saya kira tidak menyebabkan sakit kulit," ungkap Dharma.

Menurutnya, perusahaan sebelumnya telah menggelar pengobatan gratis bagi masyarakat, termasuk warga di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, yang disebut sebagai salah satu wilayah terdampak.

Dari pemeriksaan tersebut, kata Dharma, tidak ditemukan gangguan kesehatan berupa penyakit kulit maupun sesak napas yang dapat dipastikan disebabkan oleh faktor debu.

"Banyak faktor seperti yang saya sampaikan. Informasi dokter yang melakukan pemeriksaan, yang banyak hipertensi, pusing, dan faktornya ini banyak," jelasnya.

Dharma mencontohkan, keluhan sesak napas dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Flu maupun batuk, misalnya, juga dapat membuat seseorang mengalami sesak napas.

"Apakah flu atau batuk itu dari debu? Jangan-jangan dari pola makan. Makanya, silakan disampaikan warga-warga yang terdampak sakit kulit kemudian sesak napas," katanya.

Meski demikian, pihak perusahaan mengaku terbuka untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan.

"Kami diinformasikan, dan kami akan melakukan pengecekan secara investigasi penyebabnya apa," tegasnya.

Semen Indonesia Akui Pernah Ada Bau Menyengat

Selain persoalan debu dan keluhan kesehatan, Dharma juga mengakui adanya bau menyengat yang sempat muncul dari aktivitas perusahaan.

Menurutnya, beberapa waktu lalu pihak perusahaan menerima laporan mengenai bau tersebut. Setelah mendapat laporan, aktivitas yang diduga menjadi sumber bau langsung dihentikan.

"Memang pernah ada bau. Kemudian telepon saya, saat itu saya hentikan. Saat itu tidak diperbolehkan lagi ada limbah B3 yang menyebabkan bau, yang sangat menyengat atau sedikit saja," ungkapnya.

Baca juga: Demo Tuban Darurat Kesehatan, Pemkab: Saya Kira Tidak

Setelah kejadian tersebut, perusahaan melakukan penanganan terhadap pengelolaan limbah sebelum material tersebut masuk ke proses perusahaan. Langkah itu dilakukan agar material tidak kembali menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat.

"Kemudian di-treatment pengelolaan limbah sebelum masuk ke perusahaan supaya tidak menimbulkan bau," jelas Dharma.

Tim Pengelolaan Limbah B3 Tak Hadir 

Namun, ketika ditanya mengenai jenis limbah B3 yang diduga berkaitan dengan munculnya bau tersebut, Dharma mengaku belum mengetahui secara detail.

"Saya belum tahu," ujarnya ketika ditanya limbah B3 jenis apa.

Ia mengatakan sebenarnya ingin menghadirkan bagian pengelolaan limbah untuk memberikan penjelasan teknis dalam audiensi. Namun, rencana tersebut belum terlaksana karena berbarengan dengan agenda lainnya.

"Kalau secara teknis saya tidak paham karena saya bukan pengelola limbah," katanya.

Meski demikian, Dharma memastikan penggunaan limbah B3 oleh perusahaan tetap dilakukan sesuai dengan regulasi pemerintah yang berlaku.

Baca juga: Mahasiswa Bikin Makam di Depan Pemkab Tuban, Simbol Keresahan soal Layanan Kesehatan

DPRD Desak Perusahaan Segera Tindaklanjuti

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Tuban, Suratmin, mendesak perusahaan segera menindaklanjuti keluhan masyarakat. Ia tidak ingin persoalan debu dan bau tersebut berlarut-larut tanpa penyelesaian.

"Secepatnya. Kita tidak ingin ini menjadi molor dan teman-teman menanyakan ke kami kembali. Sebelum warga tanya ke kami lagi, semoga pihak semen sudah menindaklanjuti," tegas Suratmin.

700 Rumah Warga Terdampak 

Dalam audiensi tersebut, perwakilan warga menyampaikan sekitar 700 rumah atau kepala keluarga di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, disebut terdampak debu. Selain itu, sekitar 17 warga dilaporkan mengalami sesak napas.

Koordinator warga terdampak, Joyo, mengatakan masyarakat meminta perusahaan mengambil langkah serius untuk menangani persoalan debu maupun bau yang dikeluhkan.

Warga juga berharap adanya komunikasi lebih lanjut mengenai tuntutan mereka, termasuk persoalan kompensasi.

Lebih lanjut, terkait hal itu perusahaan akan segera berkomunikasi dengan tim atau aliansi warga untuk mengetahui secara rinci tuntutan masyarakat.

Editor : Abdul Rohman

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru