Jakarta, MEMANGGIL.CO - Pengobatan herbal sering dipilih sebagai cara alami untuk meredakan berbagai keluhan kesehatan, termasuk ketika seseorang mengalami batu empedu. Namun, anggapan bahwa ramuan herbal dapat langsung menghancurkan batu empedu atau menjamin penyakit tersebut tidak kambuh perlu disikapi dengan hati-hati.

Batu empedu merupakan material keras yang terbentuk di dalam kantong empedu dan dapat terdiri dari kolesterol maupun bilirubin. Sebagian batu empedu tidak menimbulkan gejala, tetapi ketika batu menyumbat saluran empedu, penderita dapat mengalami serangan nyeri di bagian kanan atas perut dan tembus belakang yang bisa berlangsung selama berjam-jam.

Karena itu, pengobatan batu empedu tidak bisa disamakan antara satu orang dengan orang lainnya. Batu empedu yang tidak menimbulkan gejala biasanya tidak membutuhkan pengobatan, sementara batu yang sudah menimbulkan serangan atau komplikasi memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis.

Di sinilah penggunaan herbal perlu ditempatkan secara tepat. Herbal atau bahan alami yang dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat tidak sama dengan terapi yang terbukti mampu melarutkan batu empedu.

Hingga kini, belum ada bukti terpercaya bahwa metode gallbladder cleanse atau pembersihan kantong empedu menggunakan kombinasi minyak, herbal dan jus buah mampu secara efektif mengobati maupun mencegah batu empedu. Mayo Clinic juga mencatat metode tersebut dapat menyebabkan mual, muntah, diare dan sakit perut.

Artinya, masyarakat sebaiknya tidak langsung percaya tanpa ada bukti nyata pada klaim ramuan tertentu yang disebut mampu menghancurkan batu empedu atau membuat batu empedu hilang tanpa pemeriksaan medis.

Yang lebih penting justru menjaga pola makan dan berat badan secara sehat. NIDDK menyebut pola makan dengan lebih banyak makanan tinggi serat, termasuk buah dan sayuran, serta mengurangi karbohidrat olahan, gula dan lemak tidak sehat dapat membantu menurunkan risiko batu empedu.

Buah seperti pepaya dapat dimasukkan sebagai bagian dari pola makan sehat karena termasuk buah yang mengandung serat. Namun, konsumsi pepaya tidak boleh dipahami sebagai pengobatan yang terbukti dapat melarutkan batu empedu.

Selain memperhatikan makanan, aktivitas fisik secara teratur dan menjaga berat badan juga menjadi bagian penting. Sebaliknya, penurunan berat badan yang terlalu cepat atau diet sangat rendah kalori justru dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.

Bagi penderita yang sudah mengalami serangan batu empedu berulang, perubahan pola makan saja belum tentu menyelesaikan masalah. Menurut NIDDK, operasi pengangkatan kantong empedu merupakan terapi yang umum untuk batu empedu yang menimbulkan gejala, sedangkan terapi tanpa operasi digunakan pada kondisi tertentu.

Karena itu, herbal boleh dicoba asalkan tidak malah membahayakan dan sebaiknya tidak digunakan sebagai alasan untuk menunda pemeriksaan atau menghentikan terapi yang sudah direkomendasikan dokter. Terlebih jika penderita sedang mengonsumsi obat tertentu, penggunaan produk herbal juga sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.

Penderita juga perlu mengenali tanda bahaya yang tidak boleh hanya ditangani dengan ramuan rumahan tertentu. Nyeri perut hingga tembus belakang selama beberapa jam, mual dan muntah, demam atau menggigil, kulit atau mata menguning, urine berwarna seperti teh serta tinja berwarna terang merupakan gejala yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Gejala tersebut dapat menandakan adanya sumbatan atau komplikasi pada saluran empedu, kantong empedu, hati maupun pankreas. Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko komplikasi serius.

Dengan demikian, penggunaan herbal untuk penderita batu empedu harus dilakukan secara bijak. Pola makan sehat dan bahan makanan alami dapat menjadi bagian dari gaya hidup untuk menjaga kesehatan, tetapi tidak dapat disamakan dengan obat atau tindakan medis yang memang ditujukan untuk menangani batu empedu.

Jika keluhan sering kambuh, langkah yang lebih aman bukan sekadar mencari ramuan yang dianggap paling ampuh, melainkan memastikan terlebih dahulu kondisi batu empedu melalui pemeriksaan medis. Dari pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan apakah kondisi cukup dipantau atau membutuhkan terapi tertentu.